TAULAH PIAN, narasipublik.net – Kalimantan tidak hanya dikenal karena hutan hujan tropis dan satwa liarnya. Pulau ini juga memiliki berbagai jenis tumbuhan yang memiliki nilai penting bagi kehidupan masyarakat.
Salah satunya adalah ulin atau Eusideroxylon zwageri.
Pohon ini dikenal luas dengan sebutan kayu besi karena kayunya sangat keras, padat, dan memiliki daya tahan tinggi. Ulin tumbuh secara alami di Kalimantan dan Sumatra.
Keistimewaan tersebut membuat ulin sejak lama menjadi salah satu jenis kayu yang sangat berharga.
Mengapa Ulin Disebut Kayu Besi?
Ada alasan mengapa masyarakat memberikan julukan “kayu besi” kepada ulin.
Kayunya memiliki tekstur yang sangat padat dan dikenal tahan terhadap air, perubahan cuaca, serta serangan rayap. Karakter tersebut membuat ulin cocok digunakan untuk berbagai kebutuhan konstruksi.
Dalam kehidupan masyarakat Kalimantan, kayu ulin telah digunakan untuk berbagai keperluan, antara lain:
- tiang dan bagian utama rumah
- lantai dan jembatan
- dermaga
- konstruksi berat
- berbagai bangunan tradisional
Arsitektur tradisional Kalimantan Selatan juga mencatat ulin sebagai bahan penting untuk tongkat dan tiang utama rumah Banjar.
Karena kekuatannya, bagian bangunan yang menggunakan ulin dapat memiliki daya tahan yang sangat panjang.
Itulah yang membuat kayu ini begitu dihargai.
Namun, kekuatan tersebut sekaligus menjadi alasan ulin banyak diburu.
![]()
![]()
Ulin Tumbuh Lambat, Karena Itu Perlu Dijaga
Ada satu hal yang sering terlupakan ketika membicarakan kayu ulin.
Pohon ini tidak tumbuh dengan cepat.
Penelitian mengenai ekologi dan konservasi ulin menunjukkan bahwa pertumbuhan serta regenerasinya tergolong lambat. Kondisi tersebut membuat pemulihan populasi ulin membutuhkan waktu yang panjang ketika pohonnya ditebang atau habitatnya terganggu.
Karena itulah, pemanfaatan ulin perlu diimbangi dengan upaya pelestarian.
Upaya tersebut kini dilakukan di sejumlah kawasan.
Di Kalimantan Selatan, misalnya, Dinas Kehutanan melakukan pemeliharaan tanaman ulin di kawasan Tahura Sultan Adam. Pada 2025, sekitar 3.000 pohon ulin tercatat telah ditanam di kawasan Pulau Ulin atau Borneo Zwageri Island.
Langkah seperti ini penting karena menjaga ulin bukan hanya tentang mempertahankan satu jenis pohon.
Ada ekosistem hutan yang ikut dijaga. Ada keanekaragaman hayati yang bergantung pada habitatnya. Dan ada warisan alam yang dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.
Ulin juga memiliki hubungan erat dengan kebudayaan masyarakat Kalimantan. Kayunya digunakan dalam berbagai bangunan tradisional dan menjadi bagian dari pengetahuan lokal mengenai pemanfaatan sumber daya hutan.
Jadi, ketika melihat bangunan tua berbahan ulin yang masih kokoh setelah bertahun-tahun, kita sebenarnya sedang melihat salah satu bukti betapa istimewanya pohon yang tumbuh di hutan Kalimantan ini.
Ulin (Eusideroxylon zwageri) dikenal sebagai kayu besi karena sangat kuat, padat, tahan terhadap air dan rayap, serta banyak digunakan dalam konstruksi tradisional maupun modern. Namun, pertumbuhannya yang lambat membuat kelestariannya perlu dijaga.
