TAULAH PIAN, narasipublik.net – Di sejumlah kawasan rawa Kalimantan Selatan, tanaman purun mungkin terlihat sederhana.
Tumbuh di lahan basah dan tidak selalu dianggap istimewa.
Namun, di tangan para pengrajin, tanaman tersebut dapat berubah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai ekonomi. Namanya anyaman purun.
Kerajinan ini telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan. Purun dimanfaatkan menjadi tikar, bakul, tas, topi, hingga berbagai produk kerajinan lainnya.
Yang menarik, keterampilan tersebut tidak hanya menghasilkan barang.
Di baliknya terdapat pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dari Rawa hingga Menjadi Kerajinan
Proses membuat anyaman purun membutuhkan ketelitian.
Tanaman purun terlebih dahulu diambil dari kawasan rawa. Setelah itu, batangnya dibersihkan dan dikeringkan sebelum diolah menjadi bahan anyaman.
Beberapa pengrajin juga memipihkan batang purun agar lebih mudah dibentuk dan dianyam. Pewarna kemudian dapat digunakan untuk menghasilkan variasi warna dan motif.
Produk yang dihasilkan cukup beragam, antara lain:
- Tikar
- Tas
- Bakul
- Topi
- Keranjang
- Dekorasi rumah
Dahulu, produk tersebut banyak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Kini, bentuknya semakin berkembang.
Tas purun misalnya, mulai dibuat dengan desain yang lebih modern sehingga dapat digunakan sebagai aksesori sekaligus produk fesyen.
RRI Banjarmasin pada 2026 melaporkan kerajinan tas purun dari Banua mulai hadir dalam desain yang lebih modern dan diminati berbagai kalangan.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kerajinan tradisional tidak harus berhenti pada bentuk lama.
Bahan dan keterampilannya tetap dipertahankan. Sementara desainnya dapat mengikuti kebutuhan zaman.
Ketika Kerajinan Menjadi Penggerak Ekonomi
Anyaman purun juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. Salah satu contohnya dapat dilihat di Kampung Purun, Kota Banjarbaru.
Penelitian Universitas Lambung Mangkurat menunjukkan bahwa kerajinan purun menjadi bagian dari kegiatan ekonomi masyarakat sekaligus berkaitan dengan kearifan lokal dalam penyediaan bahan baku dan pemasaran produk.
Hal serupa terlihat di Desa Pembelacanan, Kabupaten Kotabaru. Masyarakat setempat mengembangkan purun menjadi berbagai produk seperti tas, topi, tikar, dan keranjang.
Aktivitas tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai ekonomi desa sekaligus mempertahankan keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun.
Namun, keberadaan anyaman purun juga menghadapi tantangan.
Produk plastik dan barang modern yang lebih praktis membuat sebagian penggunaan barang tradisional semakin berkurang.
RRI mencatat bahwa di sejumlah daerah asalnya, keterampilan menganyam purun mulai mengalami penurunan di kalangan generasi muda.
Karena itu, inovasi menjadi penting.
Kerajinan purun dapat dikembangkan menjadi produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekarang tanpa menghilangkan keterampilan dasarnya.
Pelestarian pun tidak harus berarti hanya menyimpan tradisi.
Membuat kerajinan tetap memiliki pasar juga menjadi salah satu cara agar keterampilan tersebut terus diwariskan.
Bahkan, anyaman purun telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Kalimantan Selatan pada 2019.
Anyaman purun merupakan kerajinan tradisional Kalimantan Selatan yang memanfaatkan tanaman rawa menjadi berbagai produk seperti tikar, tas, bakul, dan keranjang. Selain menjadi warisan budaya, kerajinan ini juga memiliki potensi ekonomi kreatif bagi masyarakat Banua.
