TAULAH PIAN, narasipublik.net – Gerakannya lembut, penarinya membawa rangkaian bunga, sementara setiap gerakan terlihat begitu teratur.
Itulah Tari Baksa Kembang, salah satu kesenian tradisional yang lekat dengan budaya masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan.
Tarian ini bukan sekadar pertunjukan untuk memperindah sebuah acara.
Di dalamnya terdapat gambaran tentang keramahan, keanggunan, dan cara masyarakat Banjar menyambut tamu.
Tidak mengherankan jika Baksa Kembang tetap menjadi salah satu tarian yang sering diperkenalkan dalam berbagai kegiatan kebudayaan di Banua.
Bunga dan Gerakan yang Menjadi Identitas
Salah satu ciri paling mudah dikenali dari Baksa Kembang adalah penggunaan bunga oleh para penarinya.
Bunga tersebut menjadi bagian penting dalam penampilan dan memperkuat karakter tarian.
Gerakan penari kemudian disusun secara lembut dan anggun.
Tidak ada gerakan yang terlihat terburu-buru.
Setiap perpindahan posisi dilakukan dengan pengendalian tubuh dan ekspresi yang terjaga.
Karakter tersebut membuat Baksa Kembang memiliki kesan berbeda dibandingkan tarian tradisional yang mengandalkan gerakan cepat dan dinamis.
Tarian ini juga memiliki hubungan dengan tradisi penyambutan.
Dalam berbagai pertunjukan budaya, Baksa Kembang ditampilkan sebagai simbol penghormatan kepada tamu yang datang.
Karena itu, tarian ini tidak hanya berbicara tentang keindahan gerakan.
Ada pesan sosial di dalamnya.
Tamu dihormati, kedatangan disambut, dan keramahan ditampilkan melalui seni.
Nilai tersebut membuat Baksa Kembang tetap relevan meskipun zaman terus berubah.
Dari Istana hingga Panggung Generasi Muda
Baksa Kembang memiliki sejarah panjang dalam kebudayaan Banjar.
Tarian ini dikenal sebagai salah satu tari klasik Banjar yang dahulu berkembang di lingkungan keraton Kesultanan Banjar dan kemudian menjadi bagian dari kesenian masyarakat.
Seiring waktu, tarian tersebut semakin dikenal di berbagai daerah.
Sekolah, sanggar, komunitas seni, hingga lembaga kebudayaan ikut menjadi ruang bagi generasi muda untuk mempelajarinya.
Upaya regenerasi menjadi penting karena kesenian tradisional tidak akan bertahan hanya dengan menyimpan dokumentasinya.
Harus ada orang yang mau mempelajari.
Harus ada penari yang mau berlatih.
Dan harus ada panggung untuk menampilkannya.
Hal tersebut terlihat dalam berbagai kegiatan seni di Kalimantan Selatan.
Pada peringatan Hari Tari Dunia 2026, misalnya, Taman Budaya Kalsel melibatkan 535 seniman dan penari anak dari sembilan kabupaten/kota.
Kegiatan tersebut juga menempatkan regenerasi penari sebagai salah satu perhatian utama.
Menariknya, keberadaan Baksa Kembang juga masih terlihat dalam simbol kebudayaan daerah.
Pada 2026, desain logo Hari Jadi ke-76 Provinsi Kalimantan Selatan mengambil inspirasi dari gerakan Tari Baksa Kembang, yang dipadukan dengan elemen mahkota dan bunga sebagai simbol keramahan serta kemuliaan budaya Banjar.
Artinya, tarian tradisional tidak hanya hidup di atas panggung.
Nilai dan visualnya dapat masuk ke berbagai bentuk ekspresi modern.
Namun, modernisasi tetap membutuhkan batas.
Kesenian tradisional perlu dikembangkan tanpa menghilangkan karakter dan nilai yang membuatnya menjadi identitas daerah.
Baksa Kembang menjadi contoh bahwa tradisi bisa tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Gerakannya boleh dipelajari oleh generasi baru.
Panggungnya bisa semakin modern.
Promosinya dapat dilakukan melalui media sosial.
Tetapi cerita dan nilai budaya yang berada di balik tarian tetap perlu dijaga.
Tari Baksa Kembang merupakan salah satu kesenian klasik Banjar yang dikenal melalui gerakan anggun dan penggunaan bunga sebagai bagian dari pertunjukan. Tarian ini mencerminkan keramahan serta penghormatan kepada tamu dan hingga kini terus dikenalkan kepada generasi muda melalui berbagai kegiatan seni.
