SEJARAH & BUDAYATAULAH PIAN

Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dan Jejak Ilmunya di Banua

×

Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dan Jejak Ilmunya di Banua

Sebarkan artikel ini
Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dan Jejak Ilmunya di Banua. (Dok: Ilustrasi)
Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dan Jejak Ilmunya di Banua. (Dok: Ilustrasi)

TAULAH PIAN, narasipublik.net Kalimantan Selatan tidak hanya memiliki sejarah kerajaan dan perjuangan. Banua juga melahirkan ulama yang pengaruh keilmuannya dikenal jauh melampaui tanah kelahirannya.

Salah satunya adalah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, yang lebih dikenal masyarakat sebagai Datu Kalampayan.

Beliau lahir pada 17 Maret 1710 di wilayah Martapura, Kalimantan Selatan. Sejak kecil, Muhammad Arsyad dikenal memiliki perhatian besar terhadap ilmu agama dan kemudian mendapat kesempatan untuk menuntut ilmu hingga ke Tanah Suci.

Perjalanan keilmuannya kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah perkembangan Islam di Banua.

Puluhan Tahun Menuntut Ilmu di Tanah Suci

Sekitar usia 30 tahun, Muhammad Arsyad Al-Banjari berangkat ke Makkah untuk memperdalam ilmu agama.

Ia tidak pulang dalam waktu singkat.

Sumber Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan mencatat bahwa ia menimba ilmu di Makkah dan Madinah selama sekitar 30 tahun sebelum kembali ke tanah kelahirannya pada 1772.

Selama berada di Tanah Suci, ia juga berinteraksi dengan sejumlah ulama dari berbagai wilayah Nusantara.

Perjalanan tersebut membuat wawasan keagamaannya semakin luas.

Setelah kembali ke Banua, ia kemudian mendapat tempat penting dalam perkembangan keilmuan Islam di Kesultanan Banjar.

Ia tidak hanya mengajarkan ilmu agama.

Pengetahuan yang diperolehnya juga kemudian dituangkan dalam karya tulis.

Sabilal Muhtadin dan Warisan Keilmuan

Salah satu karya yang paling dikenal dari Datu Kalampayan adalah Sabilal Muhtadin.

Kitab tersebut menjadi salah satu karya penting dalam bidang fikih dan dikenal luas di lingkungan masyarakat Melayu.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menyebut karya tersebut tidak hanya menjadi rujukan masyarakat di Tanah Air, tetapi juga pernah dipelajari dan diajarkan di Masjidil Haram serta dikenal di Malaysia dan Thailand.

Pengaruh Datu Kalampayan kemudian tidak berhenti setelah beliau wafat.

Namanya terus hidup melalui pendidikan agama, pengajian, keturunan, lembaga pendidikan, hingga tradisi haul yang masih diikuti masyarakat.

Pada 2026, misalnya, ribuan jamaah menghadiri Haul ke-220 Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari di kawasan Dalam Pagar, Martapura Timur. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa sosok Datu Kalampayan masih memiliki tempat kuat dalam ingatan masyarakat Banua.

Jejaknya juga terlihat dari berbagai fasilitas yang menggunakan namanya.

Pada 2024, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan meresmikan Jalan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari di Kabupaten Banjar. Jalan tersebut menghubungkan sejumlah desa di Kecamatan Astambul dan Martapura Timur sekaligus memudahkan akses masyarakat dan peziarah menuju kawasan yang berkaitan dengan beliau.

Kawasan Kalampayan dan Dalam Pagar pun menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah dan tradisi keagamaan masyarakat Banjar.

Bagi masyarakat sekarang, kisah Datu Kalampayan bukan hanya tentang seorang ulama yang hidup ratusan tahun lalu.

Ada perjalanan panjang dalam menuntut ilmu.

Ada karya yang diwariskan.

Dan ada pengaruh keilmuan yang terus diteruskan oleh generasi setelahnya.

Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau Datu Kalampayan merupakan ulama besar asal Kalimantan Selatan yang lahir pada 1710 dan menuntut ilmu di Tanah Suci selama sekitar 30 tahun. Sepulangnya ke Banua, beliau berperan besar dalam perkembangan ilmu agama dan meninggalkan karya penting, termasuk kitab Sabilal Muhtadin.