SEJARAH & BUDAYATAULAH PIAN

Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing: Bukan Sekadar Slogan Banua

×

Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing: Bukan Sekadar Slogan Banua

Sebarkan artikel ini
Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing: Bukan Sekadar Slogan Banua. (Dok: Ilustrasi AI)
Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing: Bukan Sekadar Slogan Banua. (Dok: Ilustrasi AI)

TAULAH PIAN, narasipublik.net Ada ungkapan yang begitu melekat dengan identitas Kalimantan Selatan dan masyarakat Banjar, yakni “Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing.”

Kalimat dalam bahasa Banjar tersebut bukan sekadar rangkaian kata yang sering terdengar dalam berbagai kegiatan resmi, tetapi memiliki makna tentang keteguhan, keberanian dan semangat untuk menyelesaikan perjuangan hingga mencapai tujuan.

Dalam profil resmi Provinsi Kalimantan Selatan, Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing dimaknai sebagai perjuangan yang tidak mengenal menyerah dengan tekad baja hingga akhir.

Ungkapan tersebut ditempatkan sebagai salah satu motto yang menggambarkan filosofi hidup masyarakat di Banua.

Dari Semangat Perjuangan Menjadi Filosofi Hidup

Ungkapan tersebut sangat erat dikaitkan dengan semangat perjuangan Pangeran Antasari dan perlawanan rakyat Banjar terhadap kolonialisme.

Dalam berbagai catatan mengenai perjuangan Banjar, semangat tidak menyerah menjadi salah satu nilai yang terus dikenang dan kemudian diwariskan sebagai bagian dari identitas masyarakat Kalimantan Selatan.

Secara sederhana, haram manyarah dapat dipahami sebagai pantang menyerah, sedangkan waja sampai kaputing menggambarkan keteguhan seperti baja hingga mencapai batas akhir.

Maknanya bukan hanya tentang keberanian menghadapi sebuah pertarungan, tetapi juga tentang kemauan untuk tetap bertahan, bekerja keras dan tidak meninggalkan tujuan di tengah perjalanan.

Karena itu, filosofi tersebut kemudian tidak hanya ditempatkan dalam konteks sejarah perjuangan.

Nilainya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari pendidikan, pekerjaan, membangun usaha, menjaga keluarga hingga menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Semangatnya adalah terus berusaha dengan sungguh-sungguh dan menyelesaikan sesuatu dengan penuh tanggung jawab.

Masih Relevan di Tengah Zaman yang Serba Cepat

Di era sekarang, bentuk perjuangan masyarakat tentu sudah jauh berbeda dengan masa ketika rakyat Banjar menghadapi penjajahan.

Tantangan yang dihadapi generasi masa kini bisa berupa persaingan pendidikan, perubahan teknologi, tekanan ekonomi, persaingan dunia kerja hingga derasnya arus informasi di media sosial.

Dalam kondisi seperti itu, makna Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing justru dapat menemukan bentuk baru.

Seorang pelajar yang terus belajar meskipun menghadapi kesulitan, pelaku UMKM yang tetap mengembangkan usahanya ketika persaingan semakin ketat, atau pekerja yang terus meningkatkan kemampuan merupakan contoh bagaimana semangat tersebut dapat diterjemahkan dalam kehidupan modern.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan juga masih menggunakan semangat tersebut dalam berbagai momentum pembangunan dan kegiatan yang berkaitan dengan perjuangan serta karakter masyarakat Banua.

Pada peringatan Hari Jadi ke-76 Provinsi Kalimantan Selatan pada 13 Agustus 2026, misalnya, ungkapan Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing kembali dicantumkan bersama pesan pembangunan Banua.

Hal yang menarik, semangat pantang menyerah tidak berarti seseorang harus terus berjalan tanpa melakukan evaluasi.

Justru keteguhan dapat diwujudkan dengan kemampuan untuk belajar dari kegagalan, memperbaiki kesalahan dan kembali mencoba dengan cara yang lebih baik.

Dengan begitu, filosofi tersebut tidak berhenti sebagai kata-kata motivasi, tetapi menjadi sikap yang benar-benar terlihat dalam tindakan.

Bukan Sekadar Tulisan di Dinding

Bagi generasi muda Banua, mengenal Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing bukan hanya soal mengetahui arti sebuah ungkapan bahasa daerah.

Lebih jauh, filosofi itu menjadi pintu untuk memahami bagaimana sejarah dan nilai perjuangan dapat diwariskan ke dalam kehidupan masa kini tanpa harus kehilangan makna aslinya.

Di tengah kehidupan yang serba cepat, ketika seseorang mudah melihat keberhasilan orang lain melalui media sosial, semangat untuk bertahan dan menjalani proses menjadi semakin penting.

Tidak semua keberhasilan datang dalam waktu singkat, sehingga nilai ketekunan, kerja keras dan kesanggupan menyelesaikan apa yang telah dimulai tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat Banua.

Singkatnya, Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing adalah filosofi tentang keteguhan untuk terus berjuang dan menyelesaikan tujuan hingga akhir.

Dari sejarah perjuangan Banjar, ungkapan ini kemudian berkembang menjadi bagian dari identitas budaya Kalimantan Selatan yang masih relevan untuk menghadapi tantangan kehidupan masa kini.