TAULAH PIAN, narasipublik.net – Ketika berbicara tentang kekayaan alam Kalimantan Selatan, Pegunungan Meratus menjadi salah satu kawasan yang tidak bisa dilewatkan.
Bentang pegunungan ini bukan hanya menawarkan pemandangan hijau.
Di dalamnya terdapat hutan, sungai, air terjun, gua, bentang alam unik, kekayaan hayati, hingga kehidupan masyarakat yang telah lama bergantung pada lingkungan Meratus.
Kawasan tersebut kini memiliki nilai yang semakin penting setelah Geopark Meratus memperoleh pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark.
Bukan Sekadar Pegunungan
Geopark Meratus memiliki cakupan sekitar 3.645,01 kilometer persegi dan meliputi enam kabupaten/kota di Kalimantan Selatan. Kawasan ini juga memiliki 54 situs yang terbagi dalam empat rute perjalanan, yakni Utara, Timur, Selatan, dan Barat.
Situs-situs tersebut memperlihatkan betapa beragamnya bentang alam Meratus.
Ada air terjun. Ada kawasan karst dan gua. Ada bukit. Ada sumber air panas. Ada pula kawasan yang berkaitan dengan kekayaan mineral.
Beberapa contoh geosite yang tercatat antara lain Bukit Langara, Bukit Kantawan, Air Panas Tanuhi, Air Terjun Haratai, Air Terjun Kilat Api, Goa Liang Tapah, hingga Penambangan Intan Cempaka.
Keberagaman tersebut membuat Meratus tidak hanya menarik bagi wisatawan.
Kawasan ini juga menjadi ruang penting untuk pendidikan dan penelitian mengenai geologi, lingkungan, serta kehidupan masyarakat.
![]()
![]()
Alam, Budaya, dan Kehidupan Masyarakat
Keistimewaan Meratus tidak berhenti pada kondisi alamnya.
Kawasan ini juga menjadi tempat hidup masyarakat Banjar dan Dayak Meratus dengan berbagai tradisi serta pengetahuan lokal yang berkembang dari generasi ke generasi.
Salah satu kawasan yang cukup dikenal adalah Loksado.
Di sana, wisatawan dapat menikmati Sungai Amandit, air terjun, sumber air panas, serta pengalaman menyusuri sungai menggunakan rakit bambu.
Loksado juga menjadi bagian dari kawasan Geopark Meratus.
Dinas Pariwisata Kalimantan Selatan mencatat sejumlah destinasi di kawasan tersebut, seperti Air Terjun Haratai, Riam Hanai, Kilat Api, dan Pemandian Air Panas Tanuhi.
Yang menarik, wisata alam di Meratus sering kali berjalan beriringan dengan budaya masyarakat.
Bamboo rafting, misalnya, tidak hanya menawarkan petualangan menyusuri Sungai Amandit.
Tradisi tersebut juga memiliki hubungan dengan kehidupan masyarakat setempat yang sejak dahulu memanfaatkan sungai sebagai bagian dari aktivitas mereka.
Karena itu, menikmati Meratus seharusnya tidak hanya berarti datang, mengambil foto, lalu pulang.
Ada lingkungan yang perlu dihormati. Ada budaya yang perlu dipahami. Dan ada masyarakat lokal yang menjadi bagian dari kehidupan kawasan tersebut.
Status UNESCO Global Geopark juga membawa tanggung jawab yang lebih besar.
Pengelolaan Meratus kini diarahkan pada empat pilar utama, yaitu konservasi, edukasi, ekonomi berkelanjutan, dan pengelolaan kawasan. Pemerintah daerah juga sedang mempersiapkan kawasan tersebut menghadapi proses revalidasi UNESCO pada 2028.
Artinya, pengembangan wisata tidak hanya berbicara tentang semakin banyaknya wisatawan.
Yang tidak kalah penting adalah bagaimana alam tetap terjaga dan manfaat ekonomi dapat dirasakan masyarakat sekitar.
Pegunungan Meratus merupakan kawasan yang menyatukan kekayaan geologi, alam, flora fauna, budaya, dan kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan. Dengan status UNESCO Global Geopark, Meratus memiliki nilai wisata sekaligus tanggung jawab besar untuk menjaga warisan alam dan budaya di dalamnya.
