TAULAH PIAN, narasipublik.net – Bagaimana rasanya berbelanja ketika pasar tidak berada di atas tanah, tetapi mengapung di atas sungai?
Pengalaman seperti itu masih dapat ditemukan di Pasar Terapung Lok Baintan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Para pedagang tidak menggunakan kios permanen.
Mereka datang menggunakan jukung, perahu kayu tradisional, sambil membawa berbagai hasil pertanian, perkebunan, makanan, dan kebutuhan masyarakat.
Suasana tersebut membuat Lok Baintan berbeda dari pasar pada umumnya.
Di tempat ini, sungai sekaligus menjadi ruang perdagangan.
![]()
![]()
Ketika Sungai Menjadi Tempat Berdagang
Pasar Terapung Lok Baintan berada di Desa Sungai Pinang, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar.
Aktivitas perdagangan berlangsung pada pagi hari dan tidak berlangsung sepanjang hari. Informasi Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menyebut kegiatan pasar biasanya berlangsung sekitar tiga hingga empat jam.
Pagi menjadi waktu yang penting.
Satu per satu jukung mulai berdatangan.
Pedagang kemudian saling berdekatan di atas sungai.
Ada yang membawa buah-buahan. Ada sayuran. Ada makanan. Ada pula berbagai hasil produksi masyarakat sekitar.
Beberapa hal yang membuat suasana pasar terapung menarik antara lain:
- Jukung menjadi sarana utama berdagang.
- Aktivitas jual beli berlangsung di atas sungai.
- Pedagang membawa hasil pertanian dan perkebunan lokal.
- Suasana pasar berlangsung pada pagi hari.
- Interaksi antara pedagang dan pembeli menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Bagi wisatawan, pemandangan tersebut menjadi pengalaman yang berbeda.
Namun bagi masyarakat setempat, sungai dan jukung bukan sekadar atraksi.
Keduanya memiliki hubungan dengan kehidupan masyarakat yang telah berlangsung sejak lama.
![]()
![]()
Warisan Budaya Sungai yang Menjadi Daya Tarik Wisata
Pasar Terapung Lok Baintan disebut telah ada sejak masa Kesultanan Banjar. Ketika sungai menjadi salah satu jalur utama pergerakan masyarakat, aktivitas perdagangan pun berkembang mengikuti jalur air.
Tradisi tersebut kemudian bertahan dan berkembang menjadi bagian dari identitas budaya Banua.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan juga menempatkan Pasar Terapung Lok Baintan sebagai salah satu destinasi wisata budaya. Pemerintah bahkan terus mengembangkan fasilitas pendukung kawasan tersebut untuk mempertahankan daya tariknya.
Bagi wisatawan yang datang, pasar ini bukan hanya tempat untuk melihat transaksi.
Ada kehidupan masyarakat yang dapat diamati secara langsung.
Ada jukung yang bergerak mengikuti arus.
Ada pedagang yang saling berinteraksi.
Dan ada suasana pagi di sungai yang sulit ditemukan di pasar modern.
Karena itu, pengalaman mengunjungi Lok Baintan sebenarnya bukan hanya tentang berbelanja.
Wisatawan juga dapat melihat salah satu bentuk budaya sungai yang masih bertahan di Kalimantan Selatan.
Pemerintah daerah bahkan terus mendorong agar keberadaan pasar terapung tidak hanya menjadi tontonan wisata, tetapi juga tetap memberikan manfaat bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal.
Pada 2026, fasilitas galeri di kawasan Lok Baintan kembali diperkuat sebagai bagian dari pengembangan wisata pasar terapung.
Pasar Terapung Lok Baintan akhirnya menjadi contoh bagaimana aktivitas ekonomi masyarakat dapat berkembang menjadi daya tarik wisata tanpa sepenuhnya kehilangan akar tradisinya.
Pasar Terapung Lok Baintan merupakan pasar tradisional di atas Sungai Martapura yang menggunakan jukung sebagai sarana berdagang. Selain menjadi tempat transaksi masyarakat, Lok Baintan juga menjadi salah satu ikon budaya sungai dan destinasi wisata Kalimantan Selatan.
