TAULAH PIAN, narasipublik.net – Bagi masyarakat Kalimantan Selatan, istilah Banua Lima mungkin sudah tidak asing lagi. Nama ini kerap dikaitkan dengan kawasan Hulu Sungai dan menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah masyarakat Banjar.
Namun, tahukah kamu kenapa kawasan tersebut disebut Banua Lima?
Namanya ternyata bukan sekadar sebutan untuk lima daerah. Istilah tersebut berkaitan dengan pembagian wilayah yang sudah dikenal dalam sejarah pemerintahan Kesultanan Banjar.
Banua Lima Berasal dari Lima Wilayah
Dalam sebuah penelitian UIN Antasari Banjarmasin mengenai sejarah Islam di Banua Lima, kawasan ini disebut berawal dari Keadipatian Banua Lima, yaitu wilayah-wilayah utama yang menjadi bagian dari Kesultanan Banjarmasin.
Istilah Banua Lima sendiri berkaitan dengan ungkapan “lalawangan nang lima”, yang berarti lima wilayah atau distrik.
Lima wilayah tersebut adalah Negara, Alabio, Amuntai, Kelua, dan Sungai Banar. Wilayah Sungai Banar dalam pembagian tersebut berada di kawasan yang sekarang dikenal sebagai bagian dari Amuntai Selatan.
Masing-masing wilayah memiliki pemimpin dengan gelar Kiai Tumenggung. Sementara gabungan kelima wilayah tersebut berada di bawah seorang kepala daerah yang bergelar Kiai Adipati.
Dari sinilah istilah Banua Lima menjadi lebih mudah dipahami.
Bukan karena ada lima kabupaten seperti pembagian pemerintahan sekarang, melainkan karena pada masa tersebut terdapat lima wilayah yang tergabung dalam satu kawasan pemerintahan.
Jejak Banua Lima dalam Sejarah Banjar
Banua Lima memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah kawasan Hulu Sungai.
Penelitian UIN Antasari mencatat bahwa wilayah tersebut sudah dikenal sejak masa Kerajaan Negara Daha maupun Negara Dipa. Kawasan ini kemudian menjadi bagian dari perkembangan wilayah Kesultanan Banjar.
Pada masa Kesultanan Banjar, kawasan Banua Lima mencakup wilayah yang membentang dari Negara menuju kawasan sungai-sungai di bagian hulu.
Letaknya yang berada di kawasan aliran sungai membuat wilayah tersebut memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat Banjar pada masa lalu.
Sungai bukan hanya menjadi bagian dari lingkungan.
Bagi masyarakat masa itu, sungai juga menjadi jalur penting untuk berpindah, berdagang, dan menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Karena itu, sejarah Banua Lima tidak dapat dilepaskan dari perkembangan masyarakat di kawasan Hulu Sungai.
Nama Banua Lima pun terus meninggalkan jejak dalam ingatan sejarah masyarakat Kalimantan Selatan.
Hingga sekarang, istilah tersebut masih digunakan untuk menggambarkan kawasan historis yang memiliki hubungan kuat dengan perkembangan masyarakat Banjar di wilayah Hulu Sungai.
Menariknya, pembagian wilayah pada masa lalu tentu berbeda dengan sistem kabupaten dan kecamatan yang kita kenal sekarang.
Karena itu, Banua Lima lebih tepat dipahami sebagai kawasan historis, bukan sebagai satu daerah administratif modern.
Jejak sejarah tersebut membuat Banua Lima menjadi salah satu bagian penting untuk memahami bagaimana wilayah dan masyarakat Banjar berkembang dari masa ke masa.
