TAULAH PIAN, narasipublik.net – Jika membicarakan sejarah awal Kesultanan Banjar, nama Sultan Suriansyah hampir tidak mungkin dilewatkan.
Sebelum dikenal dengan gelar tersebut, ia dikenal sebagai Pangeran Samudera. Perjalanannya dari seorang pewaris Kerajaan Daha hingga menjadi sultan menjadi salah satu bab penting dalam sejarah Banua.
Pemerintah Kota Banjarmasin mencatat Pangeran Samudera memerintah di Banjarmasin pada 1526–1550. Pada 24 September 1526, ia memeluk Islam dan kemudian bergelar Sultan Suriansyah. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Banjarmasin.
Dari Pangeran Samudera Menjadi Sultan
Kisah Sultan Suriansyah bermula ketika ia masih dikenal sebagai Pangeran Samudera.
Dalam perjalanan politiknya, Pangeran Samudera meninggalkan lingkungan Kerajaan Daha dan kemudian berada di kawasan Banjarmasih, yang saat itu dipimpin Patih Masih.
Di kawasan inilah kekuatan politik baru mulai tumbuh.
Pangeran Samudera kemudian mendapatkan dukungan dari sejumlah tokoh dan masyarakat di Banjarmasih. Konflik dengan pihak Kerajaan Daha akhirnya berkembang menjadi peperangan.
Dalam sejumlah sumber sejarah lokal, Pangeran Samudera kemudian memperoleh bantuan dari Kesultanan Demak. Setelah kemenangan atas Daha, ia memeluk Islam dan menggunakan gelar Sultan Suriansyah.
Peristiwa tersebut menjadi titik perubahan besar. Bukan hanya pergantian nama seorang penguasa. Tetapi juga menjadi awal babak baru dalam sejarah politik dan keagamaan Banua.
![]()
![]()
Jejak Sultan Suriansyah Masih Terlihat
Warisan Sultan Suriansyah tidak hanya ditemukan dalam buku sejarah.
Salah satu peninggalan yang paling dikenal adalah Masjid Sultan Suriansyah di kawasan Kuin, Banjarmasin.
Masjid tersebut berada tidak jauh dari kawasan yang dikaitkan dengan pusat awal pemerintahan Banjar. Sumber pemerintah dan Kementerian Pendidikan mencatat masjid tersebut sebagai salah satu masjid bersejarah tertua di Kalimantan Selatan dan dibangun pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah.
Bangunannya memiliki ciri arsitektur tradisional Banjar.
Atap bertingkat, konstruksi panggung, serta lokasinya yang berada di tepi Sungai Kuin membuat masjid tersebut tidak hanya memiliki nilai keagamaan, tetapi juga nilai sejarah dan budaya.
Di kawasan yang sama terdapat kompleks makam Sultan Suriansyah.
Dengan demikian, kawasan Kuin menjadi salah satu tempat penting untuk melihat jejak awal perkembangan Kesultanan Banjar.
Menariknya, nama Sultan Suriansyah juga masih sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Banjarmasin hingga sekarang.
Namanya digunakan untuk berbagai fasilitas dan tempat, sementara kisahnya terus dipelajari sebagai bagian dari sejarah daerah.
Bagi masyarakat Banjar, sosoknya menjadi pengingat mengenai salah satu fase penting ketika pusat kekuasaan di kawasan Banjarmasin mulai berkembang dan Islam memperoleh posisi penting dalam kerajaan.
Sultan Suriansyah, yang sebelumnya dikenal sebagai Pangeran Samudera, merupakan tokoh penting dalam sejarah awal Kesultanan Banjar. Pemerintah Kota Banjarmasin mencatat masa pemerintahannya berlangsung pada 1526–1550, sementara Masjid dan Makam Sultan Suriansyah di Kuin menjadi salah satu jejak sejarah yang masih dapat dilihat hingga sekarang.
