TAULAH PIAN, narasipublik.net – Bayangkan seorang seniman duduk di hadapan penonton, memainkan alat musik sederhana, lalu mulai merangkai kata tanpa membaca naskah.
Kalimat demi kalimat keluar secara spontan. Kadang membuat penonton tertawa. Kadang menyampaikan nasihat.
Bahkan tidak jarang menyelipkan sindiran terhadap kehidupan sehari-hari.
Itulah Madihin, seni tutur yang sangat lekat dengan masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan. Madihin disampaikan dalam bentuk syair atau pantun dengan iringan alat musik tradisional bernama tarbang.
Spontan, Jenaka, tetapi Penuh Pesan
Salah satu keunikan Madihin terletak pada cara penyampaiannya.
Seorang pamadihin dituntut mampu merangkai kata secara spontan di hadapan penonton. Tidak seperti membaca puisi yang sudah ditulis sebelumnya, pertunjukan Madihin membutuhkan kemampuan mengolah kata dan merespons suasana.
Tema yang dibawakan juga bisa menyesuaikan acara. Bisa tentang kehidupan sehari-hari. Bisa tentang persoalan masyarakat. Bisa pula berupa nasihat atau humor yang membuat suasana menjadi lebih hidup.
Dalam catatan Warisan Budaya Takbenda Indonesia, Madihin disebut sebagai seni tutur lisan yang komunikatif dan spontan. Pertunjukannya juga dapat menggunakan bahasa Banjar serta diiringi alat musik perkusi tradisional tarbang.
Karakter inilah yang membuat Madihin terasa berbeda.
Penonton tidak hanya menjadi pendengar. Mereka menjadi bagian dari suasana pertunjukan.
Respons penonton bahkan dapat memengaruhi bagaimana seorang pamadihin mengembangkan materi yang disampaikannya.
Karena itu, satu pertunjukan Madihin belum tentu menghasilkan rangkaian kata yang sama ketika dibawakan pada kesempatan berbeda.
![]()
![]()
Dari Hiburan hingga Kritik Sosial
Madihin memang menghibur. Tetapi fungsinya tidak berhenti di situ.
Seni ini juga digunakan sebagai sarana menyampaikan pesan moral, nasihat, pendidikan, hingga kritik sosial. Indonesia Travel mencatat Madihin kerap ditampilkan dalam berbagai acara masyarakat dan tetap bertahan sebagai salah satu warisan budaya Banjar.
Cara menyampaikan kritik melalui humor membuat pesan terasa lebih ringan.
Penonton bisa tertawa terlebih dahulu, kemudian menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang disindir atau disampaikan.
Inilah salah satu kekuatan seni tutur. Pesan tidak selalu harus disampaikan dengan bahasa serius.
Kadang, sebuah kalimat lucu justru lebih mudah diingat.
Madihin juga bukan sekadar kesenian masa lalu.
Pada Juni 2026, sebanyak 274 peserta mengikuti lomba Madihin dan Hadrah yang digelar Polda Kalimantan Selatan di Banjarbaru. Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya memperkenalkan kembali seni tradisional kepada generasi muda.
Kehadiran generasi muda dalam pertunjukan dan perlombaan menunjukkan bahwa Madihin masih memiliki ruang di tengah perkembangan zaman.
Tantangannya adalah bagaimana membuat tradisi tersebut tetap menarik tanpa kehilangan karakter aslinya.
Sebab, jika Madihin hanya disimpan sebagai catatan sejarah, generasi berikutnya mungkin hanya mengenalnya dari buku.
Sebaliknya, ketika masih dimainkan, didengar, dan dipelajari, Madihin tetap menjadi tradisi yang hidup.
Madihin merupakan seni tutur khas masyarakat Banjar yang memadukan syair atau pantun spontan, iringan tarbang, humor, nasihat, dan kritik sosial. Seni ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dan hingga kini masih diperkenalkan melalui berbagai pertunjukan serta perlombaan.
