TAULAH PIAN, narasipublik.net – Jauh sebelum Kesultanan Banjar berkembang menjadi salah satu kekuatan penting di Kalimantan Selatan, kawasan Banua telah memiliki sejarah kerajaan yang panjang.
Salah satunya adalah Negara Daha.
Nama kerajaan ini tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah masyarakat Banjar. Negara Daha menjadi bagian dari rangkaian kerajaan yang berkembang sebelum berdirinya Kerajaan Banjar yang kemudian bercorak Islam.
Namun, kisah mengenai kerajaan-kerajaan awal di Kalimantan Selatan tidak seluruhnya dapat dipastikan hanya berdasarkan sumber tertulis. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan mencatat bahwa sejarah pemerintahan kawasan ini hingga awal abad ke-17 masih memiliki keterbatasan sumber, sementara Hikayat Raja-Raja Banjar dan Hikayat Kotawaringin menjadi salah satu rujukan penting.
Dari Negara Dipa Menuju Negara Daha
Dalam sejarah lokal Kalimantan Selatan, Negara Daha dikenal sebagai kerajaan yang muncul setelah periode Negara Dipa.
Data Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menyebut Negara Daha berkembang pada sekitar abad ke-14 dan memiliki unsur kebudayaan yang dipengaruhi hubungan dengan Jawa. Perubahan pusat pemerintahan juga dikaitkan dengan kondisi lingkungan dan perkembangan kawasan sungai.
Wilayah Negara di Hulu Sungai Selatan kemudian menjadi salah satu kawasan yang banyak dikaitkan dengan keberadaan Negara Daha.
Penelitian arkeologi di sepanjang Sungai Negara menemukan sejumlah artefak dan sisa permukiman kuno di kawasan yang sekarang berada di Kecamatan Daha Utara dan Daha Barat. Temuan tersebut menjadi salah satu bahan penting dalam penelitian mengenai hubungan kawasan Negara dengan Kerajaan Negara Daha.
Artinya, jejak Negara Daha tidak hanya hadir dalam cerita yang diwariskan masyarakat.
Ada pula temuan arkeologis yang membantu peneliti memahami kehidupan masyarakat masa lalu di kawasan tersebut.
Sungai menjadi bagian penting dalam perkembangan permukiman. Bagi masyarakat pada masa itu, sungai bukan hanya sumber air, tetapi juga menjadi jalur pergerakan manusia dan barang.
Kondisi geografis seperti inilah yang membuat kawasan sepanjang sungai memiliki posisi penting dalam perkembangan kerajaan-kerajaan di Kalimantan Selatan.
![]()
![]()
Negara Daha dan Lahirnya Babak Baru Sejarah Banjar
Perjalanan Negara Daha kemudian berkaitan erat dengan munculnya Pangeran Samudera.
Dalam catatan sejarah yang dirangkum Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, Pangeran Samudera merupakan cucu Maharaja Sukarama yang kemudian menentang kekuasaan pedalaman Negara Daha dan bergerak ke kawasan muara Sungai Kuin.
Di kawasan tersebut, Pangeran Samudera kemudian menjadikan Banjarmasin sebagai pusat pemerintahannya.
Peristiwa tersebut menjadi titik penting dalam perubahan sejarah Banua.
Pangeran Samudera kemudian dikenal sebagai Sultan Suriansyah setelah memeluk Islam.
Dari masa inilah muncul Kerajaan Banjar yang menjadi kelanjutan penting dari perkembangan politik di wilayah tersebut. Kajian sejarah juga menempatkan Kesultanan Banjarmasin sebagai kelanjutan dari kerajaan Hindu sebelumnya, yaitu Negara Dipa dan Negara Daha.
Perubahan tersebut bukan hanya soal pergantian penguasa. Ada perubahan besar dalam kehidupan politik dan keagamaan masyarakat.
Islam kemudian berkembang dan memberikan pengaruh terhadap kehidupan sosial, budaya, ekonomi, serta pemerintahan Kesultanan Banjar.
Karena itu, Negara Daha menempati posisi penting dalam rangkaian sejarah Banua.
Kerajaan ini menjadi bagian dari masa sebelum lahirnya Kesultanan Banjar sekaligus menjadi latar belakang dari perubahan besar yang terjadi setelahnya.
Jejaknya masih dapat ditelusuri melalui kawasan Negara, temuan arkeologi, serta berbagai cerita sejarah yang diwariskan masyarakat.
Negara Daha merupakan bagian penting dari sejarah awal Banua yang berkaitan dengan perkembangan Negara Dipa hingga lahirnya Kerajaan Banjar. Jejaknya masih dapat ditelusuri melalui kawasan Negara, sumber sejarah, dan temuan arkeologi.
