TAULAH PIAN, narasipublik.net – Di Kabupaten Tanah Laut terdapat sebuah situs yang mungkin belum terlalu dikenal banyak orang, tetapi menyimpan cerita penting tentang perjalanan sejarah Banua.
Namanya Benteng Tabanio.
Situs ini berada di Desa Tabanio, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.
Yang tersisa dari benteng tersebut kini memang tidak lagi berupa bangunan utuh.
Namun, fondasi dan tinggalan arkeologinya menjadi petunjuk bahwa kawasan tersebut pernah memiliki posisi penting dalam sejarah kolonial di Kalimantan Selatan.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan mencatat Benteng Tabanio sebagai situs sejarah peninggalan kolonial Belanda sekaligus saksi perjuangan rakyat Banjar.
Benteng di Kawasan Pesisir Tabanio
Benteng Tabanio merupakan salah satu peninggalan kolonial yang berkaitan dengan penguasaan wilayah dan jalur perdagangan di kawasan pesisir.
Kajian arkeologi mencatat keberadaan struktur fondasi benteng yang ditemukan bersama berbagai tinggalan seperti batu bata, genteng, keramik, tembikar, serta material bangunan lainnya.
Ada hal menarik mengenai tahun pembangunannya.
Sumber resmi Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menyebut benteng tersebut dibangun pada 1779. Sementara kajian arkeologi yang merujuk arsip Belanda menyebut pendirian Benteng Tabanio pada 1789.
Perbedaan pencatatan seperti ini menunjukkan bahwa sejarah sebuah situs terkadang masih membutuhkan penelitian dan pembacaan berbagai sumber.
Namun, satu hal yang jelas, keberadaan benteng tersebut menunjukkan pentingnya kawasan Tabanio pada masa kolonial.
Dan beberapa dekade kemudian, kawasan ini kembali menjadi bagian dari gejolak besar yang dikenal sebagai Perang Banjar.
![]()
![]()
Ketika Tabanio Menjadi Bagian dari Perlawanan
Perang Banjar pecah pada 1859 ketika perlawanan terhadap pemerintahan kolonial Belanda semakin meluas di berbagai wilayah.
Tabanio menjadi salah satu kawasan yang memiliki hubungan dengan perlawanan tersebut.
Catatan sejarah yang dihimpun Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menyebut serangan terhadap wilayah Tabanio menjadi bagian dari rangkaian perlawanan rakyat Banjar terhadap Belanda.
Dalam sebuah kajian sejarah lokal, kawasan Benteng Tabanio juga dikaitkan dengan perlawanan yang dipimpin Kiai Demang Lehman, Kiai Langlang, dan Haji Buyasin.
Benteng tersebut kemudian menjadi salah satu lokasi penting dalam kisah perjuangan rakyat di Tanah Laut.
Peristiwa itu membuat Benteng Tabanio memiliki nilai sejarah yang lebih besar daripada sekadar bangunan pertahanan.
Benteng menjadi saksi bagaimana kekuasaan kolonial berhadapan dengan perlawanan masyarakat lokal.
Sayangnya, waktu membuat sebagian besar bangunan tidak lagi bertahan.
Penelitian arkeologi bahkan menyebut Benteng Tabanio sebagai salah satu situs benteng Belanda di Kalimantan Selatan yang hanya menyisakan sedikit bagian bangunan, terutama fondasinya. Karena nilai historis tersebut, situs ini dinilai layak untuk dilestarikan.
Pemerintah Kalimantan Selatan juga pernah membawa para pelajar mengunjungi Benteng Tabanio dalam kegiatan lawatan sejarah.
Tujuannya bukan sekadar melihat reruntuhan.
Para pelajar diajak memahami bagaimana situs tersebut berkaitan dengan sejarah perjuangan masyarakat Kalimantan Selatan.
Di sinilah pentingnya situs sejarah seperti Benteng Tabanio.
Bangunan boleh tinggal fondasi.
Dinding boleh runtuh.
Tetapi cerita yang berada di baliknya masih bisa dipelajari.
Dan bagi generasi sekarang, jejak tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan masyarakat Banua tidak hanya berlangsung di tempat-tempat yang namanya sudah sangat terkenal.
Ada pula kisah-kisah lokal yang tersebar di berbagai daerah dan menunggu untuk kembali diceritakan.
Benteng Tabanio merupakan situs bersejarah di Kabupaten Tanah Laut yang berkaitan dengan keberadaan kolonial Belanda dan perjuangan rakyat Banjar. Meski sebagian besar bangunannya telah hilang, fondasi dan tinggalan arkeologinya masih menjadi bukti penting perjalanan sejarah Banua.
