TAULAH PIAN, narasipublik.net – Kalau melihat bekantan untuk pertama kali, kemungkinan besar perhatian akan langsung tertuju pada hidungnya.
Panjang, besar, dan menggantung.
Ciri tersebut membuat bekantan mudah dibedakan dari primata lainnya.
Bekantan memiliki nama ilmiah Nasalis larvatus dan merupakan satwa khas Pulau Kalimantan. Satwa ini hidup di berbagai kawasan perairan seperti rawa, hutan mangrove, serta tepian sungai.
Di Kalimantan Selatan, salah satu habitat bekantan berada di Taman Wisata Alam Pulau Bakut, Kabupaten Barito Kuala.
Kawasan tersebut memiliki ekosistem mangrove yang menjadi salah satu habitat satwa ini.
Hidung Panjang yang Menjadi Ciri Khas
Bekantan termasuk primata dengan penampilan yang cukup unik.
Tubuhnya ditutupi rambut berwarna cokelat kemerahan, sementara bagian wajahnya memiliki hidung yang sangat menonjol.
Pada bekantan jantan, ukuran hidung umumnya lebih besar dibandingkan betina.
Bentuk tersebut kemudian membuat bekantan memiliki berbagai julukan di masyarakat.
Ada yang menyebutnya monyet Belanda, karena bentuk hidungnya yang dianggap menyerupai gambaran hidung orang Eropa dalam cerita masyarakat.
Namun, hidung bukan satu-satunya hal menarik dari bekantan.
Satwa ini juga dikenal sebagai primata yang sangat dekat dengan ekosistem perairan.
Beberapa habitat yang dapat menjadi tempat hidup bekantan antara lain:
- Hutan mangrove
- Rawa
- Tepian sungai
- Hutan riparian
- Kawasan pesisir dan muara
Pemerintah melalui Direktorat Jenderal KSDAE mencatat Pulau Bakut sebagai kawasan konservasi yang memiliki habitat bekantan sekaligus ekosistem mangrove.
Karakter tersebut membuat kehidupan bekantan sangat berkaitan dengan keberadaan sungai dan kawasan basah.
![]()
![]()
Bekantan dan Hutan yang Menjadi Rumahnya
Bekantan bukan satwa yang hanya hidup di satu wilayah tertentu.
Habitatnya tersebar di sejumlah bagian Pulau Kalimantan, termasuk Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
Di Kalimantan Selatan, habitat bekantan juga tercatat di sejumlah kawasan mangrove dan tepian perairan.
Dokumen konservasi pemerintah bahkan mencatat beberapa lokasi habitat bekantan di Kalimantan Selatan, antara lain kawasan Tanah Laut, Barito Kuala, dan Tapin.
Kehidupan bekantan sangat bergantung pada keberadaan habitat yang masih sesuai.
Ketika kawasan mangrove dan hutan tepian sungai berubah, ruang hidup satwa tersebut juga ikut menyempit.
Itulah sebabnya keberadaan bekantan sering menjadi salah satu indikator penting dalam melihat kondisi lingkungan kawasan basah.
Menjaga habitat bekantan pada akhirnya bukan hanya melindungi seekor satwa.
Yang ikut dijaga adalah hutan mangrove, sungai, tumbuhan, ikan, burung, serta berbagai organisme lain yang hidup dalam ekosistem tersebut.
Bekantan sendiri telah berstatus terancam punah (Endangered) dalam daftar konservasi internasional. Indonesia.go.id juga mencatat bahwa spesies ini masuk Appendix I CITES, sehingga perdagangan internasionalnya mendapat perlindungan ketat.
Karena itu, melihat bekantan di habitat alaminya bukan hanya pengalaman menarik.
Itu juga menjadi pengingat bahwa Kalimantan masih memiliki kekayaan fauna yang harus dijaga.
Dan ketika hutan mangrove tetap berdiri, sungai tetap mengalir, serta habitatnya masih tersedia, bekantan memiliki kesempatan untuk terus menjadi bagian dari alam Kalimantan.
Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan primata khas Kalimantan yang terkenal dengan hidung panjangnya. Satwa ini hidup di habitat rawa, sungai, mangrove, dan kawasan tepian perairan. Di Kalimantan Selatan, habitatnya antara lain terdapat di Taman Wisata Alam Pulau Bakut dan sejumlah kawasan mangrove lainnya.
