BANJARBARU, narasipublik.net – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperketat sistem deteksi dini kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan (Kalsel).
Langkah ini diambil setelah pemantauan satelit NASA-NOAA20 melalui sistem SIPONGI mendeteksi sebanyak 73 titik panas atau hotspot di wilayah Kalsel.
Dari puluhan titik tersebut, sebanyak 14 hotspot teridentifikasi berada di areal Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) milik sejumlah perusahaan perhutanan.
Sebagai perpanjangan tangan pusat, Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) Wilayah XI Banjarbaru bergerak cepat meneruskan data tersebut kepada pemegang izin untuk segera diverifikasi.
Kepala BPHL Wilayah XI Banjarbaru, Wahyu Nurhidayat, menegaskan bahwa data hotspot merupakan instrumen vital dalam mencegah bencana kebakaran agar tidak meluas.
“Setiap titik panas yang teridentifikasi di dalam areal kerja PBPH perlu segera diverifikasi di lapangan sebagai bagian dari sistem peringatan dini,” kata Wahyu Nurhidayat, Minggu (16/08/2026).
Meskipun kemunculan hotspot tidak selalu menandakan kebakaran aktif, pemeriksaan fisik di lapangan wajib dilakukan guna mengantisipasi anomali suhu.
“Prinsipnya jangan menunggu api membesar. Jika terdapat informasi hotspot segera lakukan pengecekan dan penanganan awal,” tegasnya.
Langkah respons cepat ini sejalan dengan arahan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang menekankan pentingnya perlindungan hutan berbasis data akurat dan kolaborasi lintas sektor.
Guna menjaga kelestarian hutan Kalsel, seluruh pemegang izin PBPH diimbau meningkatkan patroli rutin serta menyiapkan personel dan sarpras pemadam kebakaran secara maksimal.
