TAULAH PIAN, narasipublik.net – Ketika mendengar nama Martapura, salah satu hal yang langsung terbayang adalah batu permata.
Tidak mengherankan jika kota ini mendapat julukan Kota Intan.
Martapura merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Banjar sekaligus kawasan yang sejak lama dikenal memiliki hubungan erat dengan perdagangan dan pengolahan batu permata. Bahkan, sejarah pendulangan intan di kawasan sekitarnya telah berlangsung secara turun-temurun.
Namun, bagaimana sebenarnya hubungan Martapura dengan intan?
Tradisi Mendulang yang Sudah Berlangsung Turun-temurun
Cerita tentang intan di kawasan Martapura tidak bisa dipisahkan dari Cempaka.
Kawasan Cempaka dikenal sebagai salah satu lokasi pendulangan intan tradisional di Kalimantan Selatan. Aktivitas tersebut diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Para pendulang bekerja dengan cara tradisional.
Tanah yang diduga mengandung endapan intan digali, kemudian materialnya dicuci untuk memisahkan batu berharga dari tanah dan pasir.
Pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga, ketelitian, sekaligus keberuntungan.
Sebab, tidak setiap proses pendulangan menghasilkan intan.
Kadang para pendulang harus bekerja berhari-hari tanpa menemukan batu yang bernilai tinggi.
Karena itulah, tradisi mendulang intan bukan hanya cerita tentang batu permata.
Ada kehidupan masyarakat yang sejak lama menggantungkan penghasilan dari aktivitas tersebut.
Kawasan Cempaka bahkan kini menjadi bagian dari edukasi geowisata. Pada Juni 2026, Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark membawa pelajar mengunjungi Situs Penambangan Tradisional Intan Cempaka untuk mengenal sejarah penambangan, budaya masyarakat, dan warisan geologi kawasan tersebut.
![]()
![]()
Dari Intan Mentah hingga Menjadi Permata
Intan yang ditemukan dari kawasan pendulangan tidak langsung menjadi perhiasan.
Batu tersebut perlu melalui proses pengolahan dan pemotongan agar menghasilkan bentuk yang memiliki nilai estetika.
Di Martapura, aktivitas penggosokan dan perdagangan batu permata kemudian berkembang menjadi bagian dari identitas ekonomi kota.
Salah satu tempat yang terkenal adalah Pasar Cahaya Bumi Selamat.
Di kawasan ini, masyarakat maupun wisatawan dapat menemukan berbagai batu permata dan hasil kerajinan yang berkaitan dengan batu mulia.
Hubungan antara Martapura dan intan bahkan telah lama dicatat dalam berbagai sumber.
Badan Pusat Statistik Kalimantan Selatan pernah menyoroti Martapura sebagai kota yang dikenal dengan intan dan permatanya.
Sementara itu, dokumentasi Kementerian Pendidikan juga mencatat bahwa intan dari kawasan Cempaka dibawa ke Martapura untuk dibersihkan dan digosok sebelum menjadi batu permata.
Inilah yang membuat perjalanan intan di Banua cukup menarik.
Batu yang berasal dari tanah dan endapan kawasan pendulangan dapat berubah menjadi permata yang kemudian diperdagangkan dan dikenakan sebagai perhiasan.
Martapura akhirnya tidak hanya dikenal sebagai tempat perdagangan batu permata.
Nama kota ini juga melekat dengan keterampilan para pengrajin yang mengolah batu menjadi produk bernilai.
Di sisi lain, perkembangan zaman membuat aktivitas pendulangan tradisional menghadapi berbagai tantangan.
Namun tradisi tersebut masih memiliki nilai budaya dan edukasi.
Bagi masyarakat luar daerah, cerita tentang pendulangan intan juga memberikan gambaran mengenai hubungan antara kekayaan alam, keterampilan manusia, dan perkembangan ekonomi lokal.
Karena itu, ketika seseorang membeli batu permata dari Martapura, ada sejarah panjang yang berada di belakangnya.
Bukan hanya soal kilauan batu.
Ada tanah tempat batu itu ditemukan.
Ada pendulang yang mencarinya.
Ada pengrajin yang mengolahnya.
Dan ada tradisi masyarakat yang membuat nama Martapura dikenal luas sebagai Kota Intan.
Martapura dikenal sebagai Kota Intan karena sejarah panjang pendulangan, pengolahan, dan perdagangan batu permata di wilayah Banua. Tradisi pendulangan di Cempaka serta aktivitas penggosokan dan perdagangan permata di Martapura menjadi bagian penting dari identitas daerah tersebut.
