GAYA HIDUP

Loksado Bukan Sekadar Wisata, Ada Pesona Meratus di Baliknya

×

Loksado Bukan Sekadar Wisata, Ada Pesona Meratus di Baliknya

Sebarkan artikel ini
Loksado Bukan Sekadar Wisata, Ada Pesona Meratus di Baliknya. (Dok: Istimewa)
Loksado Bukan Sekadar Wisata, Ada Pesona Meratus di Baliknya. (Dok: Istimewa)

TAULAH PIAN, narasipublik.net Kalau ingin melihat sisi lain Kalimantan Selatan, Loksado menjadi salah satu kawasan yang menarik untuk dijelajahi.

Berada di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), kawasan ini menawarkan perpaduan antara hutan pegunungan, sungai, air terjun, budaya masyarakat Dayak Meratus, dan berbagai aktivitas wisata alam. Loksado juga masuk dalam kawasan strategis pariwisata nasional.

Bagi wisatawan, Loksado bukan hanya tempat untuk mencari pemandangan indah.

Di kawasan ini, alam dan kehidupan masyarakat berjalan berdampingan.

Sungai Amandit dan Sensasi Bamboo Rafting

Salah satu pengalaman yang paling identik dengan Loksado adalah bamboo rafting atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai balanting paring.

Wisatawan diajak menyusuri Sungai Amandit menggunakan rakit yang terbuat dari bambu. Aktivitas tersebut menawarkan pengalaman berbeda karena perjalanan berlangsung di tengah bentang alam Pegunungan Meratus.

Yang menarik, bamboo rafting sebenarnya bukan sekadar atraksi wisata yang baru muncul.

Tradisi menggunakan rakit bambu memiliki kaitan dengan kehidupan masyarakat Dayak Meratus. Dahulu, rakit digunakan sebagai sarana transportasi untuk membawa hasil hutan dan hasil pertanian melalui aliran Sungai Amandit.

Kini, fungsi tersebut berkembang menjadi salah satu daya tarik wisata yang paling dikenal dari Loksado.

Pada Festival Bamboo Rafting 2026, ratusan peserta bahkan menyusuri Sungai Amandit menggunakan lebih dari 100 rakit bambu dengan lintasan sekitar 5,3 kilometer.

Perubahan fungsi tersebut menarik untuk diperhatikan.

Sebuah alat transportasi tradisional kemudian berkembang menjadi pengalaman wisata, tetapi tetap membawa cerita tentang hubungan masyarakat dengan sungai.

Alam Meratus dan Budaya yang Hidup Berdampingan

Daya tarik Loksado tidak berhenti di Sungai Amandit.

Kawasan ini juga memiliki sejumlah air terjun dan sumber air panas, termasuk Air Terjun Haratai, Riam Hanai, Kilat Api, serta Pemandian Air Panas Tanuhi.

Di sisi lain, Loksado juga menjadi ruang hidup masyarakat Dayak Meratus yang memiliki kekayaan budaya tersendiri.

Rumah tradisional Balai, berbagai kesenian, serta tradisi adat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di kawasan tersebut. Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan juga mencatat Loksado sebagai kawasan yang memiliki kekayaan alam dan budaya yang menjadi daya tarik wisata.

Karena itu, berkunjung ke Loksado sebenarnya bukan hanya soal mencari tempat untuk berfoto.

Ada kesempatan untuk melihat bagaimana masyarakat mempertahankan tradisi di tengah perubahan zaman.

Ada sungai yang menjadi bagian dari kehidupan. Ada hutan yang menjadi sumber kehidupan. Dan ada budaya yang terus diwariskan.

Kawasan Meratus sendiri kini memiliki nilai konservasi dan geopark yang semakin penting. Pemerintah Kalimantan Selatan menyebut Loksado sebagai bagian dari kawasan UNESCO Global Geopark Meratus.

Hal tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pengembangan wisata tidak cukup hanya mendatangkan pengunjung.

Keindahan alam dan budaya yang menjadi daya tarik utama harus tetap dijaga.

Kesimpulan

Loksado memperlihatkan bahwa wisata terbaik tidak selalu tentang bangunan megah atau tempat yang dibuat secara modern.

Kadang, daya tarik terbesar justru muncul dari sungai yang mengalir, hutan yang masih hijau, pegunungan yang menjulang, serta budaya masyarakat yang tetap hidup.

Bamboo rafting menjadi salah satu contoh bagaimana tradisi masyarakat dapat berkembang menjadi daya tarik wisata tanpa kehilangan cerita di baliknya.

Jadi, ketika kamu mendengar nama Loksado, jangan hanya membayangkan rakit bambu yang menyusuri Sungai Amandit.

Bayangkan juga Meratus, masyarakat, budaya, dan alam yang membuat kawasan ini memiliki karakter tersendiri di Banua.