JAKARTA, narasipublik.net – Konflik bersenjata yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel semakin meluas pada Rabu (11/3/2026). Perang yang telah memasuki hari ke-11 tersebut mengguncang kawasan Timur Tengah dan memicu ketegangan geopolitik global.
Laporan Associated Press menyebutkan Iran kembali meluncurkan serangan drone dan rudal ke sejumlah negara Teluk, sementara Israel meningkatkan serangan udara yang menargetkan instalasi militer di Iran dan Lebanon.
Ketegangan meningkat setelah Teheran mengancam menutup jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, yang selama ini dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Serangan Iran juga dilaporkan menyasar Uni Emirat Arab. Otoritas setempat menyebutkan sedikitnya sembilan drone menghantam wilayah negara tersebut, memicu kebakaran di kawasan industri Ruwais yang memiliki fasilitas petrokimia.
Di Bahrain, sebuah bangunan permukiman di ibu kota Manama terkena serangan yang menewaskan seorang perempuan berusia 29 tahun dan melukai delapan orang lainnya.
Militer Bahrain menyatakan telah mencegat lebih dari 100 rudal balistik dan sekitar 175 drone sejak konflik dimulai pada akhir Februari lalu.
Sirene peringatan juga terdengar di Yerusalem dan Tel Aviv, ketika sistem pertahanan udara Israel mencegat serangan rudal Iran.
Sementara itu, kelompok militan Hezbollah yang berbasis di Lebanon terus meluncurkan roket ke wilayah Israel, memperluas front pertempuran di kawasan tersebut.
Di Washington, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth mengatakan operasi militer terbaru menjadi salah satu yang terbesar sejak konflik dimulai.
“Operasi ini melibatkan lebih banyak jet tempur, pembom strategis, serta dukungan intelijen militer yang lebih presisi,” ujarnya.
Ketua Kepala Staf Gabungan AS Dan Caine mengungkapkan bahwa militer Amerika telah menyerang lebih dari 5.000 target di Iran sejak perang pecah.
Pentagon juga melaporkan sekitar 140 tentara Amerika mengalami luka-luka, delapan di antaranya luka serius, sementara tujuh personel militer dilaporkan tewas.
Di pihak Iran, para pejabat tetap menunjukkan sikap menantang. Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menegaskan negaranya tidak akan mencari gencatan senjata.
“Kami tidak sedang mencari gencatan senjata. Iran akan terus melawan sampai pihak yang menyerang mendapat pelajaran,” katanya.
Pejabat keamanan senior Iran Ali Larijani juga melontarkan peringatan keras kepada Presiden AS Donald Trump melalui media sosial.
“Iran tidak takut ancaman kosong Anda. Bahkan mereka yang lebih besar dari Anda tidak bisa menghancurkan Iran,” tulisnya.
Sejak konflik dimulai pada 28 Februari, korban jiwa terus meningkat dengan lebih dari 1.230 orang tewas di Iran, 397 di Lebanon, 12 di Israel, serta tujuh tentara Amerika dilaporkan gugur.
