TAULAH PIAN, narasipublik.net – Di tengah semakin populernya olahraga bela diri modern, Kalimantan Selatan masih memiliki seni bela diri tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Namanya kuntau.
Bagi masyarakat Banua, kuntau bukan hanya tentang bagaimana seseorang menyerang atau mempertahankan diri.
Di dalamnya terdapat gerakan, disiplin, keberanian, dan unsur budaya yang membuatnya berbeda dari olahraga bela diri pada umumnya.
Pemerintah Kalimantan Selatan juga pernah menyebut kuntau sebagai salah satu olahraga bela diri yang berkembang sebagai bagian dari budaya lokal.
Dari Bela Diri Menjadi Bagian dari Budaya
Kuntau memiliki karakter yang cukup khas.
Gerakannya mengutamakan kemampuan mengendalikan tubuh, membaca gerakan lawan, serta melakukan serangan dan pertahanan secara tepat.
Namun, dalam perkembangannya kuntau tidak hanya hadir dalam latihan bela diri.
Seni ini juga dapat ditampilkan dalam berbagai kegiatan budaya.
Salah satu keunikannya adalah pertunjukan kuntau dapat dipadukan dengan musik tradisional.
Hal tersebut membuat pertunjukan tidak hanya menampilkan kemampuan fisik, tetapi juga memiliki unsur seni yang kuat.
Dalam berbagai kegiatan masyarakat, kuntau dapat muncul sebagai:
- Latihan bela diri
- Pertunjukan budaya
- Festival tradisional
- Atraksi dalam kegiatan masyarakat
- Sarana mengenalkan budaya kepada generasi muda
Karena itu, seorang pesilat kuntau tidak hanya dituntut memiliki kemampuan fisik.
Kedisiplinan dan kemampuan mengendalikan diri juga menjadi bagian penting dalam mempelajarinya.
![]()
![]()
Mengapa Kuntau Perlu Terus Dikenalkan?
Perubahan zaman membuat olahraga modern semakin mudah ditemukan.
Anak-anak dan generasi muda kini memiliki banyak pilihan aktivitas, mulai dari sepak bola hingga berbagai cabang bela diri yang berasal dari luar daerah.
Di tengah kondisi tersebut, olahraga tradisional membutuhkan ruang agar tetap dikenal.
Pemerintah Kalimantan Selatan pernah menggelar Festival Kuntau se-Kalimantan sebagai salah satu upaya memperkenalkan seni bela diri tersebut kepada masyarakat.
Dalam kegiatan itu, kuntau tidak hanya diposisikan sebagai olahraga, tetapi juga sebagai bagian dari kebudayaan yang perlu dilestarikan.
Hal serupa juga terlihat dalam berbagai kegiatan olahraga tradisional di Banua.
Pada Festival Olahraga Tradisional Kalsel 2025, kuntau, balogo, dan bagasing menjadi tiga cabang yang ditampilkan dalam rangkaian kegiatan.
Festival tersebut diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan.
Kehadiran kuntau dalam kegiatan seperti ini memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengenalnya secara langsung.
Sebab, budaya akan lebih mudah bertahan ketika tidak hanya disimpan dalam buku.
Ia harus dipraktikkan, diajarkan, dipertunjukkan, dan diwariskan.
Menariknya, olahraga tradisional juga dapat memberikan manfaat lain.
Selain melatih kemampuan fisik, kegiatan semacam ini juga dapat menjadi ruang pertemuan masyarakat dan memperkuat rasa kebersamaan.
Itulah yang membuat kuntau memiliki posisi menarik di antara olahraga dan kebudayaan.
Ia menggunakan tubuh sebagai sarana bela diri, tetapi pada saat yang sama membawa identitas masyarakat yang melahirkannya.
Kuntau merupakan seni bela diri tradisional yang berkembang di Kalimantan Selatan dan memiliki hubungan erat dengan budaya Banua. Selain melatih kemampuan fisik dan ketangkasan, kuntau juga hadir dalam pertunjukan budaya serta berbagai festival sebagai upaya pelestarian tradisi.
