JAKARTA, narasipublik.net – Harga minyak mentah dunia kembali mengalami Lonjakan tajam pada perdagangan Jumat (30/10/2026) hingga mencatatkan kenaikan bulanan selama empat periode berturut-turut.
Kenaikan harga bahan bakar global ini dipicu oleh meningkatnya keprihatinan atas gangguan pasokan energi di tengah memanasnya perseteruan militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Kondisi pasar semakin bergejolak setelah insiden serangan terhadap kapal tanker minyak yang melintasi jalur pelayaran vital Selat Hormuz di kawasan Teluk.
Berdasarkan data perdagangan komoditas, harga minyak mentah acuan Brent untuk pengiriman Desember terkerek naik hingga menyentuh angka 116,08 dolar AS per barel.
Sementara itu, patokan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat ikut menguat hingga menembus posisi 103,37 dolar AS per barel.
Analis energi menilai eskalasi keamanan di rute distribusi minyak internasional menjadi penopang utama tingginya harga komoditas tambang tersebut dalam beberapa waktu mendatang.
“Rentetan insiden serangan di area Selat Hormuz serta minimnya opsi penyelesaian diplomasi terus menahan harga minyak di level tinggi akibat ekspektasi memburuknya konflik,” kata Kepala Riset Energi MST Marquee Saul Kavonic.
Sentimen pasar makin tertekan setelah klaim serangan dari kelompok Houthi yang mengincar sejumlah fasilitas kilang minyak vital milik Saudi Aramco di Arab Saudi.
Di sisi lain, ketidakpastian proses dialog antara pemerintah Amerika Serikat dan Iran semakin memperkeruh proyeksi stabilitas harga energi global.
Pengamat pasar memperkirakan pergerakan harga minyak mentah akan mengalami volatilitas tinggi dengan tren harga bertahan jauh lebih mahal dibandingkan masa sebelum konflik.
“Pergerakan harga bakal sangat fluktuatif dalam pekan-pekan mendatang, namun level per perdagangan diprediksi tetap berada di rentang yang lebih tinggi dari periode normal,” ujar Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank Ole Hansen.








