RANTAU, narasipublik.net – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menghanguskan kawasan perkebunan cabai rawit Hiyung di Desa Hiyung, Kecamatan Tapin Tengah, Kabupaten Tapin.
Amukan si jago merah melahap sedikitnya 10 hektare kebun produktif yang mengancam potensi hasil panen warga dengan taksiran nilai mencapai Rp5 miliar.
Kerugian besar ini menjadi pukulan telak bagi para petani lokal, terlebih harga jual cabai rawit khas Tapin tersebut tengah melambung tinggi di kisaran Rp125 ribu per kilogram.
Ketua Kelompok Tani Karya Baru Desa Hiyung, Junaidi, membeberkan bahwa hamparan lahan yang terbakar tersebut sedianya mampu memproduksi puluhan ton komoditas unggulan.
”Jika dikalkulasikan dari total 10 hektare, potensi hasilnya sekitar 40 ton cabai. Dengan harga pasar Rp125 ribu per kilogram, estimasi pendapatan yang hilang berkisar Rp5 miliar,” ujar Junaidi, Minggu (25/10/2026).
Selain kehilangan potensi pendapatan hasil panen, para petani juga terancam gulung tikar akibat modal usaha penanaman juga ikut terdampak.
Junaidi menerangkan bahwa biaya operasional pengelolaan satu hektare lahan cabai menghabiskan anggaran sekitar Rp20 juta.
”Artinya untuk 10 hektare lahan yang hangus ini, modal usaha petani yang berpotensi hilang secara total menembus Rp200 juta,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat puluhan petani di Desa Hiyung terancam kesulitan modal untuk melakukan penanaman ulang pada musim berikutnya.
Padahal, dari total 135 hektare lahan cabai Hiyung di desa tersebut, sebagian besar tanaman saat ini telah memasuki masa panen raya.
Petani setempat mendesak pemerintah daerah untuk mendirikan posko kesiapsiagaan bencana permanen di Desa Hiyung guna mempercepat respons penanganan karhutla di kawasan rawan.
”Kami sangat berharap ke depan ada posko penanggulangan bencana di Desa Hiyung agar penanganan api di lahan pertanian bisa lebih cepat,” pungkasnya.








