KETAPANG, narasipublik.net – Musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) mengancam keselamatan satwa liar dilindungi.
Dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, tim gabungan berhasil menyelamatkan 59 individu orang utan dari berbagai lokasi yang hangus terbakar.
Kerusakan masif pada habitat alami memaksa tim penyelamat bergerak cepat mengamankan kawanan satwa langka tersebut agar terhindar dari kepunahan.
Kepala BKSDA Kalbar, Murlan Dameria Pane, menyampaikan bahwa operasi penyelamatan bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) tersebut merupakan tindakan darurat yang wajib disusul dengan perawatan intensif.
“Langkah evakuasi darurat ini adalah bagian awal dari proses panjang penanganan satwa, yang selanjutnya memerlukan masa pemulihan medis serta pengembalian ke alam bebas,” ungkap Murlan, Senin (02/11/2026).
Kerusakan hutan pascabencana karhutla memicu krisis habitat baru, mengingat ketersediaan kawasan konservasi yang aman dan layak di wilayah Kalbar semakin terbatas.
Kondisi ini menuntut kerja sama lintas sektor guna memastikan ketersediaan koridor jelajah yang memadai bagi keberlangsungan hidup satwa endemik tersebut.
“Kelestarian satwa sangat tergantung pada ketersediaan ekosistem yang utuh, sehingga pemulihan kawasan rusak dan pemeliharaan areal hutan sisa menjadi agenda mutlak,” terangnya.
Sebagai bagian dari penanganan nyata di lapangan, sebanyak sembilan individu orang utan korban karhutla, tiga di antaranya dalam kondisi hamil telah berhasil dipindahkan ke tempat tinggal baru.
Proses pemindahan atau translokasi menuju Hutan Lindung Batu Nyambu di Kabupaten Ketapang itu dilaksanakan oleh tim gabungan BKSDA, DLHK Kalbar, KPH Ketapang Utara, dan YIARI pada Kamis (29/10/2026) lalu.








