JAKARTA, narasipublik.net – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi eskalasi signifikan insiden bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah Indonesia seiring kedatangan musim hujan di penghujung tahun.
Berdasarkan data pemutakhiran per Senin (02/11/2026), grafik kumulatif bencana di Tanah Air melonjak hingga menyentuh angka 2.278 kejadian menyusul laporan tambahan daerah terdampak.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton S.P. Panjaitan mengungkapkan bahwa mayoritas anomali iklim kini didominasi oleh musibah banjir, terjangan cuaca ekstrem, tanah longsor, hingga sisa kebakaran hutan.
“Peningkatan aktivitas cuaca ekstrem dalam dua hari terakhir memicu puluhan laporan kejadian baru yang tersebar di berbagai wilayah provinsi,” ujar Berton dalam keterangan pers daring, Senin (02/11/2026).
Lonjakan kasus paling menonjol tercatat dari terjangan banjir yang merendam sepuluh daerah sekaligus, mulai dari Kabupaten Langkat, Trenggalek, Banyumas, hingga Kota Bandung.
Selain genangan air bah, bencana angin kencang dan puting beliung turut melanda tujuh wilayah kabupaten, sementara tanah longsor terpantau mengancam tiga kawasan perbukitan.
Merespons situasi darurat ini, pemerintah daerah diminta segera meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi puncak musim hujan yang diprediksi BMKG berlangsung mulai Desember 2026 hingga Februari 2027.
Mitigasi dini seperti normalisasi saluran air, pembersihan drainase perkotaan, dan penguatan infrastruktur pengaman banjir wajib dilakukan secara masif untuk menekan risiko korban jiwa.








