RANTAU, narasipublik.net – Federasi Orienteering Nasional Indonesia (FONI) Kabupaten Tapin menggelar coaching clinic dan latihan gabungan tingkat Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) di Cafe Singgantung, Kawasan Siring Rantau Baru, Minggu (10/05/2026).
Kegiatan yang diikuti oleh puluhan pegiat dari enam kabupaten/kota di Kalimantan Selatan ini dipimpin langsung oleh Pengurus FONI Provinsi Kalsel selaku narasumber utama.
Ketua FONI Tapin, Mukriyani, menyampaikan bahwa total peserta yang terlibat dalam latihan gabungan perdana ini mencapai 41 orang, baik dari kalangan atlet maupun calon pegiat baru.
Kehadiran FONI Tapin setelah dua bulan pembentukan pengurus baru ini mendapat sambutan hangat, terbukti dengan adanya 17 orang pendaftar lokal yang berasal dari berbagai komunitas di Kabupaten Tapin.
“Khusus dari Kabupaten Tapin ada 17 orang calon pegiat yang mendaftarkan dirinya dalam kegiatan ini,” ujar Mukriyani.
![]()
Calon pegiat tersebut merupakan anggota dari Rantau Running Club (R2C) dan Kwartir Cabang (Kwarcab) Pramuka Tapin yang nantinya diproyeksikan untuk dibina menjadi atlet profesional.
”Karena Inorga ini basisnya fisik dan skill, maka dari itu kita menggandeng R2C dan Kwarcab Tapin untuk dicanangkan menjadi atlet,” tuturnya.
Melalui pelatihan ini, FONI Tapin berharap dapat menjaring pegiat-pegiat terbaik untuk diasah kemampuannya sebagai persiapan menghadapi ajang Porda 2027 mendatang.
Pengurus FONI Kalsel, Yermia Hengki Sihombing, memaparkan bahwa materi pelatihan mencakup pengenalan dasar, peraturan, hingga penggunaan peralatan khusus dalam olahraga orienteering.
Ia menjelaskan terdapat dua kategori utama yang diperkenalkan, yakni Sprint Distance dan Maze (Labirin), yang menuntut perpaduan antara kecepatan fisik serta ketepatan navigasi.
“Kami sangat mengapresiasi antusias peserta. Meski terkendala cuaca hujan, mereka tetap semangat mengikuti praktik kategori sprint,” ujar Yermia Hengki Sihombing.
![]()
Sementara itu, Ketua R2C Zizi Efendi menyambut positif kehadiran FONI di Kabupaten Tapin dan menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi dalam pengembangan olahraga ini.
Zizi mengakui bahwa kombinasi antara lari dan kemampuan membaca peta merupakan tantangan baru yang sangat menarik bagi para pecinta olahraga lari di Tapin.
“Karena basis kami lari, kami sangat tertarik jika dikombinasikan dengan navigasi. Membaca peta dan penggunaan alat memang menjadi sedikit kendala, namun secara umum kami sangat tertarik,” pungkas Zizi.
