AMUNTAI (HSU)

Investigasi Keracunan MBG di HSU, BPOM Tabalong Uji Sampel Makanan dari Dapur SPPG

×

Investigasi Keracunan MBG di HSU, BPOM Tabalong Uji Sampel Makanan dari Dapur SPPG

Sebarkan artikel ini
Petugas BPOM Tabalong menyimpan sample sisa makanan yang diambil dari dapur SPPG. (Dok. Istimewa)
Petugas BPOM Tabalong menyimpan sample sisa makanan yang diambil dari dapur SPPG. (Dok. Istimewa)

AMUNTAI, narasipublik.net Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Tabalong tengah mendalami dugaan kontaminasi bakteri patogen dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyebabkan 53 siswa SMKN 1 Amuntai mengalami gangguan pencernaan massal.

Kepala Balai POM di Tabalong, Taufiqurrohman, mengungkapkan pihaknya telah mengambil sampel sisa makanan langsung dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta kotak makan yang dikonsumsi oleh para siswa.

Berdasarkan analisis gejala awal, para korban mengeluhkan sakit perut rata-rata satu jam setelah menyantap hidangan, yang memperkuat indikasi adanya kontaminasi mikroorganisme pada menu tersebut.

“Namun kepastiannya menunggu hasil uji laboratorium. Sampel sudah kami ambil tadi malam dan saat ini masih proses inokulasi. Hasilnya kemungkinan keluar satu hingga dua hari ke depan,” ujar Taufiqurrohman, Jumat (24/04/2026).

​Selain melakukan uji laboratorium, Balai POM juga memberikan rekomendasi kepada pengelola SPPG agar standar sanitasi dan keamanan pangan ditingkatkan demi mencegah kejadian serupa terulang kembali.

Disisi lain, ​insiden ini mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Hulu Sungai Utara (HSU). Sekretaris Daerah (Sekda) HSU, Adi Lesmana, terpantau turun langsung menjenguk para siswa yang masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Pemerintah daerah melalui Satgas MBG berencana segera mengumpulkan seluruh pengelola dari 17 SPPG yang ada di HSU untuk melakukan evaluasi total terhadap sistem distribusi dan produksi.

Salah satu poin penting yang dipertimbangkan adalah pembatasan volume produksi harian di setiap titik pelayanan guna menjamin kontrol kualitas makanan yang lebih terjaga.

“Kami menggandeng Balai POM untuk menyusun rekomendasi. Salah satunya, tiap SPPG diminta tidak memproduksi lebih dari 3.000 porsi per hari. Ini masih akan kami diskusikan,” kata Adi Lesmana.

Sekda HSU juga menginstruksikan pihak sekolah agar lebih proaktif dalam melakukan pengawasan mandiri terhadap setiap paket makanan yang masuk sebelum dibagikan kepada para pelajar.