BALANGAN, narasipublik.net – Banyak masyarakat pembuat gula merah di Kecamatan Lampihong, sehingga menjadikannya sebagai bahan makanan khas wilayah di Kabupaten Balangan.
Kecamatan Lampihong, merupakan daerah yang terdapat puluhan masyarakat yang berprofesi sebagai penyadap pohon enau atau aren. “enau dalam bahasa banjar dilafalkan dengan hanau”.
Sadapan dari pohon hanau, merupakan bahan baku utama pembuatan gula merah, atau bahasa setempat disebut gula habang.
Tak hanya penyadap aren, para pembuat gula habang khas Lampihong juga tersebar di beberapa desa.
Salah satunya yang terkenal adalah Desa Matang Hanau.
Nama desa itu pastinya, akan menggambarkan di wilayah itu banyak pohon hanau yang dimaksud.
Sesuai namanya, pohon hanau banyak tumbuh di belakang-belakang hingga pekarangan rumah warga.
Seorang warga Desa Matang Hanau, Muhammad Aslam mengaku telah puluhan tahun menjalani usahanya sebagai pembuat gula habang khas Lampihong.
Meski begitu, Aslam mengaku juga memiliki usaha sampingan untuk mencukupi biaya kehidupan sehari-harinya.
Tetapi ketika masa pandemi Covid-19 ini, sudah satu tahun lebih hanya fokus untuk membuat gula habang.
Aslam memiliki pohon hanau dan menyadapnya sendiri. Sebanyak tujuh pohon, yang tumbuh besar di belakang rumahnya rutin ia sadap.
Ia menyebutkan, dalam sehari mampu mengumpulkan tujuh jeriken atau sekitar 35 liter nira, yang biasa disebut laang atau lahang.
Produksi gula habang, ia mampu membuat 10 biji per hari. Gula habang biasa dijual per biji dengan berat sekitar 1,5 kilogram, seharga Rp 25 ribu.
Sedangkan jika membuat gula habang dengan ukuran cetakan lebih kecil, ia mengkalkulasikan mampu sampai 50 biji per harinya. Harga gula habang ukuran kecil sekitar Rp 3 ribu per biji.
Menurutnya, cita rasa gula habang buatannya masih alami karena pembuatannya masih dengan cara yang tradisional.
“Pengolahan bisa mencapai 8 jam, air lahang harus benar benar matang, dan warnanya mulai merah kehitaman yang tandanya matang,” terangnya.
Ia menegaskan, gula habang di tempatnya asli tanpa campuran gula pasir. Sebab, menurutnya kualitas adalah yang utama.
Dengan jaminan kemurniannya tanpa campuran, gula habang buatannya cukup laku sehingga stok tidak bertahan lama.
“Tidak sempat bertahan lama (stok) di rumah, sehari pasti ada yang mengambil. Ada yang sudah memesan duluan, ataupun pembeli yang datang langsung ke rumah,” ungkapnya.
Aslam mengaku tidak pernah menjajakan ke pasar atau ke manapun. “Mungkin pembeli percaya kepada kualitas gula kami yang asli,” ujarnya.
Warga Balangan lain, Dina Tiara mengatakan, menjadi langganan membeli gula habang di tempat Aslam karena keasliannya.
“Memang telah lama, langganan dan memang di sana gula habangnya asli,” jelasnya. (Fik)
Editor : Yat
