BERITA NASIONAL

Inovasi Baru Penanganan Karhutla, BNPB Gunakan Es Kering Penyemai Hujan

×

Inovasi Baru Penanganan Karhutla, BNPB Gunakan Es Kering Penyemai Hujan

Sebarkan artikel ini
BNPB melakukan uji coba es kering atau dry ice dalam operasi modifikasi cuaca (OMC) di wilayah Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah. (Dok: BNPB)
BNPB melakukan uji coba es kering atau dry ice dalam operasi modifikasi cuaca (OMC) di wilayah Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah. (Dok: BNPB)

JAKARTA, narasipublik.net – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menguji coba penggunaan es kering atau dry ice dalam operasi modifikasi cuaca (OMC) di wilayah Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah.

​Inovatif ini dilakukan guna mempercepat penurunan intensitas kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih melanda kedua kawasan tersebut.

​Penggunaan dry ice difungsikan sebagai alternatif pembanding teknologi penyemaian awan konvensional yang selama ini mengandalkan taburan garam natrium klorida (NaCl).

​Suhu dingin ekstrem dari dry ice dinilai mampu merangsang pembentukan kristal es pada awan secara lebih responsif sehingga mempercepat proses terjadinya presipitasi hujan.

​”Material ini berbentuk padat dengan tingkat suhu ekstrem mencapai di bawah minus 78 derajat Celsius. Karbon dioksida padat ini secara responsif memicu kristalisasi awan hingga menghasilkan hujan yang aman bagi lingkungan,” ujar Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan, Rabu (21/10/2026).

​Pada operasi penaburan tanggal 19 Oktober 2026, tim BNPB menerbangkan lima sorti di Kalimantan Tengah dengan membawa 1.600 kilogram dry ice serta 300 kilogram garam.

​Sementara untuk wilayah Sumatera Selatan, BNPB mengerahkan tiga sorti penyemaian yang memanfaatkan 1.600 kilogram dry ice dan 800 kilogram garam.

​Melalui penerapan material padat ini, BNPB menargetkan perbaikan jarak pandang penerbangan dan transportasi darat dapat terwujud dalam waktu yang relatif lebih singkat.

​”Kelebihan penyemaian es kering ini membuat dampaknya dapat segera kita amati di mana tingkat visibility membaik. Sifat materialnya efektif mengikat molekul air sehingga memicu hujan di udara lebih cepat,” tutur Berton.

​Meski demikian, ia menegaskan keberhasilan rekayasa cuaca ini tetap bergantung pada ketersediaan bibit awan potensial di atmosfer setempat.

​”Operasi OMC di Riau telah dihentikan sejak 25 September 2026 karena curah hujan alami sudah turun. Sebaliknya di Jambi penyemaian belum bisa dieksekusi akibat ketiadaan tutupan awan yang memadai,” ujarnya.