DPRDKANDANGAN (HSS)SEJARAH & BUDAYA

Kartoyo Dorong Tradisi Baarakan Naga Jadi Potensi Wisata di HSS Lewat Sosialisasi Perda

×

Kartoyo Dorong Tradisi Baarakan Naga Jadi Potensi Wisata di HSS Lewat Sosialisasi Perda

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua DPRD Kalsel H. Kartoyo saat mensosialisasikan Perda Provinsi Kalsel Nomor 4 Tahun 2016 tentang Pemberdayaan Masyarakat dan Desa. (Dok. Istimewa)
Wakil Ketua DPRD Kalsel H. Kartoyo saat mensosialisasikan Perda Provinsi Kalsel Nomor 4 Tahun 2016 tentang Pemberdayaan Masyarakat dan Desa. (Dok. Istimewa)

KANDANGAN, narasipublik.net Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), H. Kartoyo menggelar kegiatan Sosialisasi Peraturan Daerah (Sosper) di Desa Sungai Kupang, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).

Dalam sosialisasi yang dihadiri perwakilan dan tokoh masyarakat dari 14 desa tersebut, Kartoyo tidak hanya menyampaikan materi Perda, tetapi juga menyerap langsung berbagai aspirasi terkait potensi budaya lokal.

“Banyak potensi budaya yang masih hidup di tengah masyarakat, seperti kuliner khas Lamang dan Gula Habang,” ujarnya.

Selain kuliner, perhatian juga tertuju pada tradisi budaya Baarakan Naga di Desa Baluti atau Loklua yang selama ini menjadi bagian dari kegiatan keagamaan dan adat masyarakat setempat.

“Tradisi ini perlu dijaga dan dikembangkan agar tidak hanya menjadi kegiatan rutin, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” tuturnya.

Kartoyo menjelaskan, kegiatan ini merupakan bagian dari Sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Kalsel Nomor 4 Tahun 2016 tentang Pemberdayaan Masyarakat dan Desa.

“Pemberdayaan budaya lokal sangat penting untuk memperkuat identitas masyarakat sekaligus membuka peluang pengembangan pariwisata,” ujar Kartoyo.

Menurutnya, inventarisasi budaya lokal menjadi langkah awal untuk mengembangkan potensi desa agar lebih dikenal dan memiliki nilai tambah.

“Jika potensi budaya ini didata dengan baik, ke depan bisa menjadi destinasi wisata yang mendukung perekonomian masyarakat,” jelasnya.

Tidak hanya itu, Kartoyo juga mendorong adanya kerja sama dengan kelompok sadar wisata agar pengelolaan budaya dapat lebih terarah dan berkelanjutan.

“Harapannya, tradisi Baarakan Naga dapat difasilitasi dan memiliki jadwal yang pasti sehingga memudahkan masyarakat dan wisatawan untuk menyaksikannya,” pungkasnya.