BERITA NASIONAL

Penetapan Status Siaga 1, Panglima TNI Sebut Bagian Uji Kesiapan Pasukan

×

Penetapan Status Siaga 1, Panglima TNI Sebut Bagian Uji Kesiapan Pasukan

Sebarkan artikel ini
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto. (Dok. Istimewa)
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto. (Dok. Istimewa)

JAKARTA, narasipublik.net Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menjelaskan bahwa penetapan status siaga 1 di lingkungan TNI merupakan istilah yang lazim digunakan dalam sistem kesiapsiagaan militer, khususnya untuk menghadapi kondisi darurat seperti bencana alam.

Agus menyampaikan bahwa status tersebut berkaitan dengan kesiapan Pasukan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana Alam (PRC-PBA) yang dimiliki setiap Komando Daerah Militer di Indonesia.

“Siaga 1 itu istilah di militer yang biasa digunakan. Saya berlakukan siaga 1 di satuan Pasukan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana Alam. Setiap kodam memiliki satu batalyon yang disiapkan apabila terjadi bencana di wilayahnya,” ujar Agus di Istana Negara, Jakarta, Selasa (10/3/2026).

Ia juga menanggapi kemunculan konvoi pasukan TNI di kawasan Monumen Nasional yang sempat menjadi perhatian publik. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengujian kesiapan prajurit dan peralatan militer.

“Itu menguji kesiapsiagaan personel dengan materielnya. Dari wilayah-wilayah menuju Jakarta kita hitung berapa menit. Kalau terjadi sesuatu di Jakarta, pasukan bisa cepat digerakkan,” katanya.

Agus menegaskan bahwa penetapan status siaga tersebut tidak memiliki batas waktu tertentu karena lebih bersifat uji kesiapan operasi.

“Sudah mulai kita kembalikan ke satuan masing-masing. Mereka juga dibantu kepolisian dalam pengamanan menjelang Nyepi dan Idul Fitri. Tidak ada rentang waktu khusus karena ini uji kesiapsiagaan,” jelasnya.

Sebelumnya, kebijakan siaga 1 tertuang dalam Telegram Panglima TNI Nomor TR/283/2026 yang ditandatangani Asisten Operasi Panglima TNI Bobby Rinal Makmun pada Sabtu (7/3/2026).

Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari upaya antisipasi terhadap dinamika geopolitik global yang memanas, terutama konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Pengamat militer dari Universitas Nasional, Selamat Ginting, menilai kebijakan tersebut merupakan bentuk kewaspadaan strategis dan bukan indikasi Indonesia akan terlibat dalam konflik bersenjata.

“Dalam situasi geopolitik global yang memanas, objek vital strategis memang kerap menjadi sasaran pihak yang ingin menciptakan instabilitas. Karena itu peningkatan patroli dan kesiapsiagaan merupakan langkah preventif yang lazim dilakukan militer di banyak negara,” ujar Selamat.