BOGOR, narasipublik.net – Pertamina melalui program Inovasi Kompetisi PFsains mendorong penguatan ketahanan pangan dengan mengembangkan sistem pertanian terintegrasi berbasis ekonomi sirkular di lingkungan pesantren.
Program tersebut diimplementasikan oleh salah satu binaan PFsains 2025 kategori Implementation dari Fakultas Teknik Universitas Pancasila di Pondok Pesantren Daarul Hawariyyin, Kabupaten Bogor.
Konsep yang diterapkan mengusung sistem “4 in 1”, yakni integrasi pertanian hidroponik, peternakan ayam, perikanan, serta pengolahan sampah organik dalam satu ekosistem berkelanjutan.
Inovator program, Dr. Dino Rimantho, menjelaskan sistem ini dirancang untuk menjawab berbagai tantangan operasional pesantren, mulai dari kebutuhan pangan hingga pengelolaan limbah.
“Sistem ini menjawab kebutuhan pangan santri dan asatidz, pengelolaan sampah organik, serta efisiensi biaya operasional pesantren melalui pemanfaatan limbah secara terpadu,” ujar Dino, Rabu (28/1/2026).
Ia menyebutkan limbah organik pesantren dan kotoran ternak diolah melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) yang dimanfaatkan sebagai pakan ayam dan ikan lele, sementara air kolam ikan didaur ulang untuk mendukung sistem hidroponik.
“Kami juga mengolah lele menjadi abon lele sehingga sistem ini menciptakan produksi pangan yang efisien, minim limbah, dan ramah lingkungan,” katanya.
Dalam implementasinya, sistem ini ditunjang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 1 kWp untuk mendukung operasional penetasan telur, pompa hidroponik, mesin pengolah sampah, hingga pengering maggot.
Dewan Pengawas Pertamina Foundation, Narendra Widjajanto, mengapresiasi penerapan inovasi tersebut yang dinilai telah memberikan manfaat nyata bagi pesantren.
“Inovasi ini tidak berhenti pada konsep, tetapi sudah dirasakan manfaatnya. Tantangan ke depan adalah pematangan model bisnis agar dapat direplikasi ke pesantren lain,” ujarnya.
Direktur Keuangan Pertamina Foundation, Tito Rahman Hidayatullah, menilai inovasi ini mampu membangun ekosistem kemandirian pesantren yang berkelanjutan.
“Melalui PFsains, kami ingin menghadirkan solusi nyata yang mendorong kemandirian pangan sekaligus menjadi sarana pembelajaran kewirausahaan bagi santri,” tuturnya.
