GAYA HIDUPTAULAH PIAN

Waspada! Asap Rokok Ancam Tumbuh Kembang Anak Sejak dalam Kandungan

×

Waspada! Asap Rokok Ancam Tumbuh Kembang Anak Sejak dalam Kandungan

Sebarkan artikel ini
Waspada! Asap Rokok Ancam Tumbuh Kembang Anak Sejak dalam Kandungan. (Foto : Ilustrasi)
Waspada! Asap Rokok Ancam Tumbuh Kembang Anak Sejak dalam Kandungan. (Foto : Ilustrasi)

TAULAH PIAN, narasipublik.net Kesehatan dan tumbuh kembang anak kini menghadapi ancaman ganda dari lingkungan, baik polusi udara maupun paparan asap rokok.

Kedua faktor ini sangat berbahaya, mengingat sistem pernapasan, saraf, dan kekebalan tubuh anak-anak belum sepenuhnya matang, menjadikan mereka kelompok paling rentan.

Paparan jangka panjang terhadap udara yang tercemar dapat menimbulkan dampak kesehatan yang serius, bahkan sejak anak masih dalam kandungan.

Sebuah studi dari CS Berkey menunjukkan, anak dengan ibu perokok aktif cenderung memiliki tinggi badan yang lebih pendek.

Mirisnya, risiko stunting juga menghantui anak-anak yang ibunya hanya terpapar asap rokok (perokok pasif), lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak terpapar sama sekali.

Dokter Cynthia Centauri, SpA, dalam seminar Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada Kamis (9/10/2025) kemarin, memaparkan fakta mencengangkan.

Dimana ada sebanyak 93% anak di bawah usia 15 tahun di seluruh dunia, termasuk Indonesia, bernapas dengan udara yang tercemar.

Dampak Fatal pada Tumbuh Kembang Anak

Kualitas udara yang terus memburuk setiap tahun ini bukan sekadar ancaman, melainkan realitas yang meningkatkan risiko kesehatan dan menghambat tumbuh kembang anak.

WHO bahkan memperkirakan sekitar 600.000 anak meninggal setiap tahun akibat polusi udara. Paru-paru anak yang masih dalam tahap perkembangan membuatnya jauh lebih rentan dibanding orang dewasa.

Lebih jauh, polusi udara tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga perkembangan kognitif dan mental anak. Risiko autisme dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dapat meningkat akibat paparan polusi.

Untuk anak usia 6-11 tahun, polusi udara dikaitkan dengan gangguan belajar, sementara pada remaja, paparan ini memiliki korelasi dengan depresi, kecemasan, delusi, bahkan halusinasi.

Langkah Mitigasi dan Peran Kolektif

Menyikapi kondisi ini, dr. Cynthia menyarankan beberapa langkah proaktif untuk meminimalkan paparan polusi udara:

  • Menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
  • Memilih transportasi publik untuk mengurangi emisi kendaraan pribadi.
  • ​Menghindari area jalanan yang padat atau sangat berpolusi.
  • Memonitor kadar polusi udara secara rutin untuk mengambil tindakan pencegahan.

Selain itu, dr. Cynthia sangat berharap adanya peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya menciptakan kawasan bebas asap rokok.

“Yang paling berperan penting adalah kesadaran individu itu sendiri. Jika kesadarannya kurang, program sebaik apa pun tidak akan berjalan optimal,” ujar dr. Cynthia.

Lebih lanjut, ia juga mendorong pemerintah untuk bekerja sama dalam memperketat akses terhadap rokok.

“Dengan menaikkan cukai rokok, mudah-mudahan ini bisa membatasi akses masyarakat terhadap rokok,” pungkasnya.