TAULAH PIAN, narasipublik.net – Tari Baksa Kambang merupakan salah satu tarian tradisional khas suku Banjar yang berasal dari Kalimantan Selatan (Kalsel). Tarian ini telah menjadi simbol keanggunan, kelembutan, dan kecantikan perempuan Banjar.
Dengan gerakan gemulai dan busana yang indah, Tari Baksa Kambang tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana pelestarian budaya yang terus dijaga hingga kini.
![]()
Sejarah dan Makna Tari Baksa Kambang
Tari Baksa Kambang memiliki akar sejarah yang dalam. Konon, tarian ini terinspirasi dari kebiasaan perempuan Banjar zaman dahulu yang gemar memetik bunga di taman.
Gerakan tari yang lembut menggambarkan keceriaan dan keindahan alam. Selain itu, tarian ini juga sering dipentaskan dalam acara-acara adat, seperti pernikahan, penyambutan tamu agung, atau festival budaya.
![]()
Busana dan Properti Tari
Penari Baksa Kambang biasanya mengenakan busana tradisional Banjar yang disebut “pengantin baamar galung pancar matahari”. Busana ini didominasi warna cerah seperti merah, emas, dan hijau, dilengkapi dengan aksesoris seperti mahkota, kalung, dan gelang. Properti utama dalam tarian ini adalah rangkaian bunga yang dibawa oleh penari, melambangkan keharuman dan keindahan.
![]()
Pelestarian di Era Modern
Meskipun zaman terus berubah, Tari Baksa Kambang tetap lestari berkat upaya masyarakat dan pemerintah setempat. Sanggar-sanggar tari di Kalimantan Selatan aktif mengajarkan tarian ini kepada generasi muda.
Selain itu, tarian ini juga sering ditampilkan dalam event-event nasional dan internasional, memperkenalkan kekayaan budaya Banjar kepada dunia.
![]()
Pentingnya Menjaga Warisan Budaya
Tari Baksa Kambang bukan sekadar tarian, melainkan warisan budaya yang mengandung nilai-nilai luhur. Melestarikan tarian ini berarti menjaga identitas dan kebanggaan suku Banjar. Dengan dukungan semua pihak, diharapkan Tari Baksa Kambang tetap hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.
