AMUNTAI, narasipublik.net – Derasnya arus informasi dan kemudahan akses platform media sosial di era digital saat ini menjadi tantangan besar dalam pembentukan karakter serta moralitas generasi muda.
Kondisi tersebut memicu perhatian serius dari Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), KH Said Masrawan, yang mengingatkan pentingnya benteng moral di lingkungan keluarga.
Menurutnya, meski teknologi digital membuka luas cakrawala pengetahuan, tanpa adanya pendampingan anak-anak rentan terpapar konten yang menyimpang dari norma agama dan budaya Banua.
“Sekarang tantangannya berbeda. Anak-anak sangat dekat dengan dunia digital. Karena itu perlu pendampingan agar mereka mampu memilah mana yang baik dan mana yang tidak,” ujar KH Said Masrawan.
Ia menilai penguatan akidah dan akhlak sejak dini menjadi kunci utama agar generasi muda tidak kehilangan arah atau terombang-ambing oleh tren negatif di dunia maya.
KH Said juga menyoroti maraknya fenomena sosial menyimpang di ruang digital, salah satunya kampanye terselubung mengenai isu LGBT yang dinilai bertentangan dengan Fatwa MUI Nomor 57 Tahun 2014.
“Media sosial harus menjadi sarana edukasi, menyebarkan ilmu, dan membangun hal-hal positif. Jangan sampai justru menjadi ruang yang melemahkan moral,” tegas ulama karismatik HSU tersebut.
Dirinya menambahkan, mencetak generasi emas yang tangguh tidak cukup hanya mengandalkan sistem pengawasan ketat, melainkan harus menyentuh metode keteladanan yang nyata dalam keseharian.
Sinergi kuat antara lembaga pendidikan, tokoh agama, serta lingkungan sosial yang sehat diyakini mampu melahirkan pemimpin masa depan yang cerdas secara intelektual sekaligus kokoh secara spiritual.
“Generasi muda yang memiliki ilmu dan akhlak akan mampu membawa perubahan positif. Mereka dapat membangun masa depan tanpa kehilangan identitas agama dan budaya,” pungkasnya.
